Inflasi Awal Tahun Menguat, Wagub Reny Ajak TPID se-Sulteng Perkuat Strategi 4K Jelang Idul Fitri

Daerah564 views

PENATEGAS – Wakil Gubernur, dr. Reny A. Lamadjido Sp.PK., M.Kes mengajak seluruh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah untuk menyatukan langkah dan gagasan dalam menghadapi tekanan inflasi yang kembali menguat di awal tahun 2026.

Ajakan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) TPID se-Sulteng yang digelar secara hybrid di Gedung Pogombo, Kamis (26/02/2026).

Forum strategis ini menjadi ruang konsolidasi penting antar pemangku kepentingan guna merumuskan langkah cepat dan terukur demi menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Dalam arahannya, Wakil Gubernur Reny mengungkapkan bahwa inflasi Sulawesi Tengah pada Januari 2026 kembali bergerak naik dari ambang batas yang ditetapkan. Padahal, pada Desember 2025 inflasi sempat ditekan hingga berada di level toleransi 3,5 persen.

“Kondisi ini harus menjadi sinyal kuat bagi kita semua untuk bertindak lebih cepat dan lebih solid,” tegasnya.

Menurutnya, perubahan cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor dominan yang mempengaruhi produksi pangan di Sulteng.

Dampaknya, sejumlah komoditas volatile food seperti bawang, cabai, ikan laut, telur, dan beras mengalami kenaikan harga.

Tidak hanya itu, tren masyarakat yang cenderung memborong emas dalam beberapa waktu terakhir juga dinilai turut memberi andil terhadap tekanan inflasi daerah.

Menjelang libur Idul Fitri, ia memprediksi tantangan akan semakin kompleks. Kenaikan harga tiket transportasi serta meningkatnya pola konsumsi masyarakat selama periode mudik dan hari raya berpotensi menjadi pemicu tambahan inflasi.

“Ayo kita cari tahu betul apa yang harus dilakukan supaya inflasi ini turun dan sehat kembali,” dorongnya, memacu partisipasi aktif seluruh peserta Rakorda untuk menyampaikan saran dan solusi konkret.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Sukarna, menjelaskan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan di Sulteng, tetapi juga melanda sejumlah provinsi tetangga.

Kelangkaan stok pangan di daerah tersebut mendorong peningkatan permintaan pasokan dari Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah produsen terdekat. Di sisi lain, arus mudik dan libur panjang diperkirakan akan memicu lonjakan kebutuhan.

Tingginya arus keluar barang dari Sulteng untuk memenuhi permintaan luar daerah berpotensi menimbulkan kelangkaan stok di dalam wilayah sendiri yang kemudian memicu kenaikan harga.

Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan implementasi framework 4K: ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah konkret seperti intensifikasi sidak pasar, pelaksanaan pasar murah, optimalisasi neraca pangan, penguatan rantai distribusi, hingga perluasan kerja sama antar daerah dinilai krusial menjaga stabilitas harga, khususnya menjelang dan pasca-Idul Fitri.

Ia optimistis, dengan sinergi dan strategi terukur, inflasi Sulawesi Tengah dapat kembali terkendali. “Harapan kami saat bulan Maret, inflasi lebih melandai,” ujarnya penuh keyakinan.

Baca Juga: 

https://penategas.id/safari-ramadhan-perdana-pemprov-sulteng-ajak-umat-memakmurkan-masjid-dan-perkuat-keimanan/

News Feed