CELESTRIUM; Central Celebes Strategic Forum. (From Conflict to Collaboration)
Relasi government dan corporate dalam pengalaman ku. Rasanya, telah tiga puluh empat tahun berlalu, ternyata persoalan kita relatif masih sama. Belum banyak berubah.
_By: Muhd. Nur SANGADJI_
SEBUAH pertemuan strategik, baru saja dihelat di Kota Palu. Penggagasnya adalah Bank Indonesia, kantor Cabang Sulawesi Tengah. Aktor inisiatornya, Roni Hartawan, sang pimpinan. Beliau ini tergolong langka. Karena unik dan “easy going“. Selain berfungsi sebagai “meet maker“. Beliau juga terjun langsung selaku “Crew event“. Bertindak moderator sebagai pemancing bicara yang hebat. Ini sesuatu yang jarang ada untuk seseorang dalam jabatan sekelas kepala Bank Indonesia.
Forum ini menghadirkan Walikota Palu, Hadiyanto Rasyid, perwakilan IMIP Morowali, Hari dan YouTuber asal Denmark, Cristian Hansen, dan
JFlow, branding and promotion anthosiast. Acara itu menjadi sangat menarik karena selain dipandu langsung oleh kepala Bank Indonesia Kantor Cabang Sulawesi Tengah. Juga menghadirkan Andi F Noya. Seorang jurnalis senior yang sangat kesohor. Dikenal sebagai Presenter Kondang Televisi, Kick Andy
Acara yang menghadirkan peserta dari kalangan birokrat dan dunia usaha itu, berlangsung sangat elegan. Santai tapi serius. Membahas topik sesuai nama dari forum ini. Central Celebes Strategic Forum. Yaa, Segala soal di sekitar Sulawesi Tengah. Gubernur menslogankan Seribu Megalit. Tapi, Deputi Bank Indonesia yang dikutip Pak Roni Hartawan dalam pembukaan bicaranya sebagai “Negeri Seribu Potensi”.
*******
Tahun 2009, saya ikut rombongan Mahasiswa Pasca Sarjana Institusi Pertanian Bogor berkunjung ke Malaysia dan Singapura.
Dalam satu dialog di kantor kedutaan besar Republik Indonesia di Kuala lumpur Malaysia, saya mendengar Dubes kita bilang begini : Kata orang Malaysia, bila Indonesia mau ambil Seluruh wilayah Malaisya, silahkan saja. Asalkan berikan kami Sulawesi.
Apa artinya itu..? Maknanya, mereka telah lama tahu bagaimana besarnya potensi Sulawesi. Dan, Sulawesi Tengah memiliki peran yang sangatlah penting. Selain karena letaknya di tengah. Juga sangat luas dengan multi potensialnya. Katakanlah, pertambangan, pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan dan pariwisata.
Tahun 1989, saya masuk ke Dunia kerja usai kuliah. Menjadi karyawan perusahaan kelapa sawit pertama di Sulawesi Tengah. Tamaco Graha Krida (TGK). Letaknya di Bungku Tengah, Kabupaten Poso yang sekarang telah menjadi kabupaten Morowali. Tidak ada bayangan sama sekali akan adanya pertambangan Nikel bersekala Mondial hadir di sini. Satu satunya isu antagonis dengan perkebunan saat itu adalah pertambangan mineral “Crom”. Entah mengapa, pertambangan jenis ini tidak berkembang. Justru, mineral Nikel yang tidak diketahui ketika itu, malah berkembang bagaimana industri raksasa berkelas dunia.
*******
Pertanyaannya, apa efek industri ekstraktif pertambangan ini bagi daerah Sulawesi Tengah dan Rakyatnya..? Ini soal yang harus menjadi perhatian serius. Dialog sore hingga malam itu, menyisahkan persoalan yang harus diurai lebih lanjut hingga ke ujung solusi yang memuaskan dan menguntungkan semua pihak. Pemerintah, Korporasi dan masyarakat (Community).
Sejak 34 tahun silam ketika berposisi sebagai Asisten manager di perkebunan kelapa sawit, saya telah merasakan ada relasi peran yang timpang antar stake holder. Malam ini saya mendengar lagi. Pemerintah mengeluh dengan kontribusi dan sepak terjangnya dunia usaha. Sementara dunia usaha juga mengeluh dengan perilaku birokrasi pemerintah dan aparaturnya (regulasi dan prilaku). Masyarakat dan alam mengambil posisi tengah yang terkadang menjadi korban konflik dan degradasi.
Karena itu, solusi harus dihadirkan. Ada kaiidah konsep yang disarankan oleh Scott Cambel dari Michigan University. Beliau bilang, pembangunan itu menyeimbangkan tiga sudut segitiga ; pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan keseimbangan ekologi. Ini yang dikenal dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Karena itu, pembangunan itu juga harus menjawab kebutuhan masyarakat dan mesti peka pada konflik sosial dan bencana alam. Jawaban kongkrit dari relasi ini adalah “kolaborasi“. Kita sebut “gotong royong“. Dan sesungguhnya, ini adalah karakter bangsa kita yang terancam punah. Janganlah.
Penulis adalah Prof. Bidang Ekologi Manusia, kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Tadulako.
Lembah Palu, 26/07/2024.





