Ekspor Perdana Durian Beku ke Tiongkok. Gubernur Anwar Hafid Sebut Parigi Moutong Jadi “Tambang Emas Berduri” Dunia

Daerah1,797 views

PENATEGAS – Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Anwar Hafid, M.Si secara resmi melepas ekspor perdana 27-ton durian beku produksi PT Silvia Amerta Jaya menuju pasar Tiongkok, Kamis (26/02/2026), di Parigi.

Pelepasan ini bukan sekadar seremoni pengiriman komoditas hortikultura, melainkan penanda babak baru kebangkitan sektor pertanian Sulawesi Tengah dalam menembus pasar global. Ekspor ke Tiongkok tersebut menjadi tonggak penting penguatan hilirisasi komoditas unggulan daerah.

Durian yang selama ini dikenal sebagai primadona lokal, kini diproses dalam bentuk beku dengan standar ekspor internasional, membuka peluang nilai tambah yang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha.

Dalam sambutannya, Gubernur Anwar Hafid menyampaikan optimisme besar terhadap masa depan Kabupaten Parigi Moutong sebagai sentra produksi durian terbesar. Ia bahkan menyebut daerah itu berpotensi menjadi penghasil durian terbanyak di dunia.

“Kabupaten Parigi Moutong akan menjadi kabupaten penghasil durian terbanyak di dunia. Kalau ini berhasil maka akan merambat ke semua sektor, ekonomi tumbuh, lapangan kerja terbuka luas, dan UMKM semakin berkembang,” tegasnya.

Menurutnya, keberhasilan ekspor perdana ini adalah awal transformasi ekonomi berbasis pertanian yang berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya menjaga semangat kolektif antara pemerintah, investor, dan petani agar momentum ini tidak berhenti pada satu kali pengiriman saja.

“Maka dari itu kita jaga sama-sama semangat kita agar petani kita juga semangat. Dengan begitu, hal seperti saat ini bisa terulang lagi,” ujarnya.

Anwar Hafid menempatkan petani sebagai garda terdepan pembangunan daerah. Ia menyebut kemajuan ekonomi Sulawesi Tengah bertumpu pada kekuatan komoditas lokal yang dikelola secara profesional dan berorientasi ekspor. “Petani lah yang menjadi garda terdepan sebagai suksesor majunya daerah kita ini,” tuturnya.

Lebih jauh, ia mendorong Parigi Moutong dijadikan pusat pengembangan durian Sulawesi Tengah dengan strategi perluasan lahan secara masif.

Ia memproyeksikan, jika setiap kabupaten memiliki minimal 1.000 hektare lahan durian dan Parigi Moutong mencapai 5.000 hektare, maka total luas perkebunan bisa menyamai negara produsen lain di Asia Tenggara seperti Laos.

“Kalau saja setiap kabupaten punya tanaman durian 1.000 hektare ditambah Parigi Moutong 5.000 hektare, kita punya puluhan ribu hektare dan itu sudah bisa menyamai Laos,” ungkapnya.

Gubernur Anwar Hafid pun berpesan kepada Bupati Parigi Moutong agar menjadikan daerah tersebut sebagai “tambang durian” berskala besar yang berorientasi ekspor.

Dalam analoginya, emas bisa habis, tetapi “emas berduri” berupa durian akan terus berbuah dan memberi manfaat berkelanjutan.

Ekspor durian beku ini menjadi sinyal kuat bahwa hortikultura Sulawesi Tengah memiliki daya saing global.

Dengan dukungan pemerintah, kolaborasi investor, dan semangat petani, provinsi ini kian menegaskan diri sebagai kekuatan baru sektor pertanian, hilirisasi, dan ekspor berkelanjutan di Indonesia.

Baca Juga: https://penategas.id/safari-ramadhan-perdana-pemprov-sulteng-ajak-umat-memakmurkan-masjid-dan-perkuat-keimanan/

News Feed