DPPKB Donggala Analisa Penyebab Stunting

Daerah52 views

PENATEGAS – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Donggala yang ditugaskan untuk menangani masalah stunting secara terprogram, telah melakukan analisa terhadap penyebab stunting.

Kepala DPPKB Donggala, La Samudia di kantornya, Kamis (05/01/23) memberikan analisanya terhadap penyebab masalah stunting di Kabupaten Donggala, yang relatif masih membutuhkan penanganan serius.

Stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Stunting akan berpengaruh terhadap kecerdasan anak dan meningkatnya risiko kejadian penyakit kronis pada saat dewasa.

Kegiatan terkait stunting mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 72/2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting dan Peraturan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) Nasional RI Nomor 12/2021 Tentang Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2021-2024.

Menurut La Samudia beberapa penyebab stunting, yaitu; Pertama, rendahnya pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif, Gizi yang dikonsumsi, pengolahan bahan makanan yang baik, serta kurangnya penerapan PHBS di Rumah Tangga.

Kedua, terjadinya pernikahan usia dini, dimana mayoritas bayi dibawah usia dua tahun (Baduta) Stunting merupakan anak dari pasangan yang menikah pada usia 15-20 tahun.

Ketiga, pemberian makanan tambahan tidak sesuai dengan umur anak. Anak yang berusia kurang dari 6 bulan sudah diberi makanan tambahan seperti nasi, pisang, bubur dan madu.

Keempat, tingkat ekonomi rendah, berdampak pada rendahnya akses pangan keluarga. Makanan yang dikonsumsi oleh anggota keluarga kurang bervariasi sehingga kebutuhan zat gizi tidak terpenuhi dengan baik.

Kelima, si ibu mengalami Kekurangan Energi Kronik (KEK) saat hamil.

Keenam, balita yang stunting karena ada riwayat penyakit bawaan Lahir.

Ketujuh, jarak kelahiran yang terlalu dekat (2 tahun) serta jumlah anak banyak, mempengaruhi pengasuhan anak khususnya dari segi pemberian makanan serta pengawasan orang tua pada personal hygiene pada anak.

Kedelapan, Sumber Daya Manusia (SDM) dengan tingkat pendidikan yang rendah, tandasnya. (***)

News Feed