Wagub Sulteng Ajak Jemaat Gereja dan Pemerintah Bersatu Selamatkan Generasi Muda dari Ancaman Narkoba  

Daerah38 Dilihat

PENATEGAS – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., mengajak pemerintah, tokoh agama, keluarga, dan lembaga pendidikan memperkuat kolaborasi untuk melindungi generasi muda dari ancaman penyalahgunaan narkoba dan degradasi moral. Menurut dia, dua persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan hukum atau kebijakan pemerintah.

Pernyataan itu disampaikan Reny saat menjadi narasumber dalam kegiatan Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) bersama Gereja Bagian Mandiri (GBM) GPID dan anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) di Jemaat GPID Sola Gratia Palu, Senin (13/07/2026).

Kegiatan yang berlangsung pada 12–15 Juli 2026 itu mengangkat tema “Bersama Segenap Elemen GPID Membangun Kemitraan Antar Gereja, Pemerintah dan Lembaga Lainnya untuk Menghijaukan Tri Mandiri: Teologi, Daya dan Dana.”

Dalam pemaparannya yang berjudul “Menjaga Generasi Emas: Sinergi Pemimpin Daerah dan Tokoh Agama Menghadapi Badai Narkoba dan Dekadensi Moral, Reny mengatakan penyalahgunaan narkoba dan menurunnya nilai-nilai moral menjadi ancaman nyata bagi masa depan generasi muda Indonesia.

Menurut dia, pemerintah memiliki instrumen berupa regulasi, kebijakan, dan penegakan hukum. Namun, pembentukan karakter tidak cukup hanya mengandalkan negara. Peran tokoh agama, keluarga, dan lingkungan sosial dinilai sama pentingnya dalam membangun ketahanan moral generasi muda.

http://Baca Juga: https://penategas.id/2026/07/13/bupati-vera-laruni-tekankan-opd-penghasil-bergerak-tingkatkan-pad/

“Ketika moral anak-anak terancam, sekat-sekat perbedaan menjadi tidak lagi penting. Kita dipersatukan oleh satu misi besar, yaitu menyelamatkan generasi penerus bangsa,” kata Reny. Ia menilai sinergi antara pemerintah dan lembaga keagamaan menjadi salah satu fondasi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Reny mengingatkan bahwa narkoba bukan hanya persoalan pelanggaran hukum, tetapi juga ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia. Penyalahgunaan narkotika, menurut dia, dapat merusak fungsi otak secara permanen sehingga menurunkan kemampuan berpikir, kreativitas, dan motivasi seseorang.

Selain itu, ia menyoroti perubahan sosial yang dinilai turut memengaruhi ketahanan keluarga sebagai lingkungan pertama pembentukan karakter anak. Karena itu, gereja bersama keluarga diharapkan semakin aktif menanamkan nilai-nilai moral dan pendidikan iman kepada generasi muda.

“Perbedaan iman tidak boleh membatasi langkah kita untuk bergandengan tangan. Di hadapan kerusakan akibat narkoba dan dekadensi moral, tidak ada sekat agama. Korbannya bisa anak dari siapa saja,” ujarnya.

Reny berharap kemitraan antara pemerintah, gereja, dan berbagai lembaga tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi diwujudkan melalui program edukasi, pendampingan, dan pembinaan yang berkelanjutan bagi generasi muda.

Kegiatan tersebut dihadiri Persekutuan Majelis Sinode Gereja Protestan Indonesia Donggala, perwakilan jemaat dari Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu, serta jemaat Gereja Bagian Mandiri GPID dan anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Forum itu menjadi wadah memperkuat kerja sama lintas lembaga dalam mendorong lahirnya generasi yang sehat, berkarakter, dan berintegritas.