Tenun Donggala Siap Mendunia, Wagub Sulteng Dorong Regenerasi Penenun Lewat Jurusan Khusus di SMK

Nasional229 Dilihat

PENATEGAS – Keindahan dan nilai budaya tenun khas Donggala kembali mencuri perhatian dalam pembukaan Buya Subi Festival 2026 bertema “Handmade for the Earth” yang berlangsung di Pantai Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala,

Selasa (07/07/2026). Festival yang mengusung semangat pelestarian budaya dan keberlanjutan lingkungan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur menegaskan bahwa Buya Subi Festival bukan sekadar perhelatan budaya tahunan, melainkan momentum strategis untuk memperkenalkan tenun Donggala sebagai warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi menembus pasar internasional.

Menurutnya, tenun Donggala bukan hanya menyimpan keindahan pada setiap helai kain, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan, identitas masyarakat, serta kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, keberadaannya harus terus dijaga dan dikembangkan agar mampu menjadi bagian dari industri fesyen berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.

“Buya Subi Festival adalah pesan kepada dunia bahwa Sulawesi Tengah memiliki kekayaan budaya yang layak dibanggakan. Tenun Donggala memiliki kualitas, keunikan motif, dan nilai filosofi yang mampu bersaing di pasar internasional,” ujar Reny.

Salah satu langkah konkret yang tengah dipersiapkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah adalah membuka peluang hadirnya jurusan khusus tenun di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Gagasan tersebut dinilai penting sebagai upaya menjaga keberlangsungan tradisi menenun yang kini menghadapi tantangan serius akibat minimnya regenerasi.

http://Baca Juga: https://penategas.id/2026/07/08/kejar-target-5-977-rumah-layak-huni-perkimtan-sulteng-percepat-pengusulan-bsps-untuk-dukung-program-3-juta-rumah/

Wakil Gubernur mengungkapkan bahwa sebagian besar penenun aktif saat ini berasal dari kalangan usia lanjut. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena dikhawatirkan keterampilan menenun akan semakin berkurang apabila tidak diwariskan kepada generasi muda.

“Jangan sampai tenun kita hilang karena para pengrajinnya didominasi generasi yang sudah lanjut usia. Regenerasi harus segera dilakukan agar warisan budaya ini tetap hidup, berkembang, dan mampu menjadi sumber kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan, festival budaya harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya para pelaku UMKM dan perajin. Oleh karena itu, kegiatan seperti Buya Subi Festival tidak boleh berhenti sebatas pameran atau pertunjukan budaya, tetapi harus mampu mendorong meningkatnya minat masyarakat untuk membeli, mengenakan, dan mencintai produk tenun lokal.

Menurut Reny, kualitas tenun Donggala telah memiliki daya saing yang kuat. Keindahan warna, kerumitan motif, hingga kualitas serat kain menjadi keunggulan yang patut terus dikembangkan.

Namun demikian, inovasi tetap diperlukan agar produk tenun mampu mengikuti perkembangan tren fesyen tanpa meninggalkan identitas budaya yang menjadi ciri khasnya.

“Pemerintah ingin kualitas terus meningkat dengan desain yang lebih modern, tetapi tetap mempertahankan identitas budaya Donggala. Inovasi harus berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai tradisi,” katanya.

Lebih jauh, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus menjadikan sektor ekonomi kreatif sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

Pengembangan industri tenun diyakini mampu membuka lapangan kerja baru, memperkuat sektor UMKM, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Wakil Gubernur juga mengajak generasi muda untuk mulai bangga menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap karya para perajin.

Menurutnya, kecintaan terhadap produk daerah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus memperkuat identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.

Harapan besar juga disematkan pada penyelenggaraan Buya Subi Festival 2026 agar mampu melahirkan berbagai kolaborasi strategis dalam pengembangan industri kreatif. Kehadiran CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA), Zuhal Kuvan Mills, dinilai menjadi peluang emas untuk memperkenalkan tenun Donggala ke panggung fesyen dunia sekaligus membuka akses pasar internasional bagi produk unggulan Sulawesi Tengah.

“Mari jadikan festival ini sebagai ruang belajar, ruang berkarya, ruang berkolaborasi, sekaligus ruang membangun masa depan ekonomi kreatif Sulawesi Tengah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tutup Reny.

Pembukaan Buya Subi Festival 2026 turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Donggala Dr. Ir. H. Rustam Efendi, S.Pd., S.H., M.AP., unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta para kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kabupaten Donggala.

 

News Feed