Pesan Orang Tua kepada Anak

Artikel22 Dilihat

Pesan Orang Tua kepada Anak Berbasis Kearifan Lokal Kaili

Oleh: Dr. H. Suaib Djafar, M.Si

(Maestro Budayawan Kaili)

 

DALAM kehidupan masyarakat Kaili, pendidikan karakter tidak hanya diajarkan melalui nasihat, tetapi juga melalui ungkapan-ungkapan bijak yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu pesan luhur yang selalu ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya adalah:

Ane Moliu Ntetotua Kana Merapi Tabe
(Kalau melewati orang tua, sopanlah meminta izin sambil sedikit membungkukkan badan).

Ungkapan ini mengajarkan pentingnya menghormati orang yang lebih tua. Membungkukkan badan dan mengucapkan “tabe” merupakan simbol kerendahan hati, penghargaan, dan tata krama yang mencerminkan kepribadian luhur seorang anak. Dalam pandangan masyarakat Kaili, sopan santun adalah cerminan martabat dan identitas seseorang.

Pesan berikutnya adalah:
Vesiamuni Ane Mangande Nemo Mojarita Leparalu” (Ketika sedang makan, jangan banyak berbicara yang tidak perlu).

Nasihat ini mengandung makna agar anak selalu menghargai rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT. Makan bukan hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga bentuk rasa syukur atas nikmat Tuhan. Dengan menjaga adab saat makan, seseorang belajar menghormati makanan, menghargai jerih payah orang tua, dan mensyukuri karunia Sang Pencipta.

Selanjutnya terdapat ungkapan:
Mau Napande Nataungana Ane Lenoada” (Walaupun seseorang pintar dan cerdas, apabila tidak memiliki akhlak dan adab yang baik, maka sirnalah nilai kebaikannya).

Ungkapan ini menegaskan bahwa kecerdasan tanpa akhlak tidak akan membawa kemuliaan. Dalam filosofi hidup masyarakat Kaili, ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan etika, sopan santun, dan rasa hormat kepada sesama.

Keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari kepintaran, tetapi juga dari perilaku yang mencerminkan budi pekerti yang luhur.

Melalui pesan-pesan sederhana tersebut, orang tua Kaili mengajarkan bahwa menghormati sesama, mensyukuri rezeki, dan menjaga akhlak merupakan fondasi utama kehidupan.

Kearifan lokal ini menjadi warisan budaya yang penting untuk terus dilestarikan sebagai pedoman dalam membentuk generasi yang cerdas, beradab, dan bermartabat.

Napande Natau Itunabelo, Tapi Nabelopantoto Nabelo Adana.” (Pintar dan Cerdas Itu baik, tetapi yang lebih utama adalah memiliki adab dan akhlak yang mulia).

Pesan-pesan ini menunjukkan bahwa dalam budaya Kaili, adab ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu, karena ilmu yang disertai akhlak akan membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.(*)

News Feed