Ungkapan Bijak Masyarakat Kaili

Artikel14 views

Ane Murasai Dua Karomu Danatuvu, Ane Komiu Mbarasai Duatonantanina, Komiu Manusia

Oleh: Dr. H. Suaib Djafar, M.Si (Budayawan Kaili)

UNGKAPAN Bijak Masyarakat Kaili: “Ane Murasai Dua Karomu Danatuvu,
Ane Komiu Mbarasai Duatonantanina, Komiu Manusia” mengandung makna filosofis yang sangat dalam tentang hakikat kehidupan dan kemanusiaan. Secara harfiah, ungkapan ini berarti: “Jika engkau merasakan sakit, itu tanda bahwa engkau masih hidup. Namun jika engkau mampu merasakan sakitnya orang lain, maka engkau adalah manusia.”

Dalam perspektif kearifan lokal Kaili, pesan ini tidak hanya menggambarkan kondisi fisik, tetapi juga menyentuh dimensi batin dan moral manusia.
Bagian pertama,

Ane Murasaidua, Karomu Danatuvu”, menegaskan bahwa rasa sakit adalah bukti keberadaan hidup. Sakit bukanlah semata penderitaan, melainkan tanda bahwa jiwa dan raga masih berfungsi, masih diberi kesempatan untuk merasakan, belajar, dan bertumbuh.

Dalam konteks ini, rasa sakit menjadi guru kehidupan yang mengajarkan ketahanan, kesabaran, dan kesadaran diri.

Sementara itu, bagian kedua, “Ane Komiu Mbarasai Duatonantanina, Komiu Manusia”, mengangkat derajat makna ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu kemanusiaan sejati. Kemampuan merasakan penderitaan orang lain adalah inti dari empati dan solidaritas sosial.

Inilah nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat dalam budaya Kaili, bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan terikat dalam rasa kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Nosipeili, Nosimpotove, Nosimpoasi

Ungkapan ini juga mencerminkan filosofi hidup masyarakat Kaili yang menjunjung tinggi nosarara nosabatutu (persaudaraan dan persatuan), Mosangu, Morambanga Mosipatuju Manyama Katuvu

di mana setiap individu diharapkan tidak hanya kuat menghadapi penderitaan pribadi, tetapi juga peka terhadap kesulitan sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini tercermin dalam sikap tolong-menolong, gotong royong, serta kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar. Nosialapale, Riposusa Kananetambani

Dengan demikian, ungkapan ini mengajarkan dua lapis kesadaran: pertama, kesadaran akan diri sebagai makhluk hidup yang terus berproses; dan kedua, kesadaran sebagai manusia yang utuh, yang diukur dari sejauh mana ia mampu merasakan dan merespons penderitaan orang lain.

Pada titik inilah, kemanusiaan menemukan maknanya yang paling hakiki, bukan hanya hidup, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai kasih dan kepedulian dalam kehidupan bersama.(*)

News Feed