Hari Kartini dalam Perspektif Kebangkitan Mombine Kaili dalam Membangun Keluarga Mandiri

Artikel85 views

Hari Kartini dalam Perspektif Kebangkitan Mombine Kaili dalam Membangun Keluarga Mandiri

Oleh: Dr. H. Suaib Djafar, M.Si

PERINGATAN Hari Kartini setiap tanggal 21 April bukan sekadar mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, tetapi juga menjadi momentum reflektif bagi perempuan di berbagai daerah, termasuk Mombine Kaili di Sulawesi Tengah, untuk bangkit, berdaya, dan berperan aktif dalam membangun keluarga serta masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

Dalam perspektif budaya Kaili, Mombine (perempuan) memiliki posisi yang sangat strategis dan terhormat. Ia bukan hanya sebagai pendamping suami, tetapi juga sebagai penjaga nilai, pengatur ekonomi rumah tangga, serta pendidik utama generasi penerus.

Kebangkitan Mombine Kaili berarti menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal seperti kesederhanaan, ketekunan, gotong royong (nosarara nosabatutu), serta kebijaksanaan dalam mengelola kehidupan keluarga.

Semangat Kartini menemukan relevansinya dalam kehidupan Mombine Kaili masa kini. Perempuan Kaili tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga mampu menjadi pelaku ekonomi kreatif, penggerak UMKM, pelestari budaya, bahkan pemimpin dalam komunitas adat.

Dengan memadukan nilai tradisional dan pengetahuan modern, Mombine Kaili menjadi pilar utama dalam menciptakan keluarga mandiri—keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan ekonomi, menjaga harmoni sosial, serta melestarikan identitas budaya.

Keluarga mandiri dalam perspektif Kaili bukan hanya diukur dari kecukupan materi, tetapi juga dari kuatnya nilai spiritual, adat, dan kebersamaan. Perempuan sebagai “inti rumah” (pusenungata) berperan dalam menanamkan nilai-nilai sopan santun, etika, serta filosofi hidup seperti “Mosangu Mombangu Ngata” (bersatu membangun negeri). Dari keluarga yang kuat, akan lahir masyarakat yang kokoh, dan pada akhirnya daerah yang maju dan berdaya saing.

Momentum Hari Kartini hendaknya menjadi penguat tekad bagi Mombine Kaili untuk terus belajar, berinovasi, dan berkontribusi. Kebangkitan ini bukan berarti meninggalkan akar budaya, melainkan memperkuatnya sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan demikian, semangat Kartini dalam diri Mombine Kaili adalah semangat untuk bangkit, mandiri, berbudaya, dan bermartabat—menjadi cahaya dalam keluarga, serta penggerak utama dalam mewujudkan Sulawesi Tengah yang “Nambaso” (besar, kuat, dan sejahtera). (*)

News Feed