Catatan Singkat Strategi Kebijakan Pembangunan dalam Konteks Program “Sembilan Berani” di Sulteng

Artikel251 views

PROVINSI Sulawesi Tengah berada pada posisi strategi di titik peta Indonesia Timur; dan juga merupakan jantung baru bagi hilirisasi industri nasional sekaligus gerbang logistik strategis bagi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di tengah momentum emas tersebut, visi “Sembilan Berani” sebagai salah satu program unggulan gubernur akan menjadi kompas kebijakan untuk mewujudkan masyarakat Sulteng yang lebih sejahtera.

Namun, sebuah keberanian tanpa diimbangi dengan strategi yang presisi cenderung hanya akan menjadi sebuah retorika belaka.

Program “Sembilan Berani” tentunya diharapkan akan dapat bertransformasi dan bukan sekadar narasi politik akan tetapi menjadi eksekusi teknokratis yang memiliki dampak yang lebih nyata dan nilai strategis.

Mengubah Paradigma: Dari Ekstraktif ke Inklusif

Salah satu pilar utama dalam “Sembilan Berani” adalah keberanian dalam pengelolaan sumber daya alam. Selama ini, Sulteng terjebak dalam pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun terasa “semu” atau sering digunakan istilah PARADOKS KEBIJAKAN PEMBANGUNAN.

Sebab, persentase angka kemiskinan di Sulteng masih relatif tinggi. Bahkan masyarakat yang bermukim diwilayah pertambangan juga cenderung mengalami kondisi yang sama.

Olehnya itu, salah satu strategi kebijakan kedepan harus fokus pada Hilirisasi Sosial. Artinya, keberadaan industri nikel di Morowali atau Banggai tidak boleh hanya menghasilkan ferronickel untuk ekspor, tetapi harus menciptakan ekosistem UMKM lokal yang menjadi penyokong industri tersebut.

Pemerintah daerah harus “berani” menekan korporasi besar untuk menjalin kemitraan strategis dengan pengusaha lokal, bukan sekadar memberikan bantuan CSR yang bersifat karitatif. Konektivitas dan Kedaulatan Pangan sebagai penopang IKN, Sulteng memiliki keunggulan komparatif.

Strategi pembangunan dalam konteks “Sembilan Berani” harus menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur yang terintegrasi.

Keberanian untuk membangun pelabuhan logistik yang canggih dan akses jalan dari sentra produksi pertanian (seperti Napu atau Sigi) menuju pesisir adalah kunci.

Kita tidak boleh hanya bangga menjadi “penonton” IKN. Sulteng harus menjadi “dapur” bagi IKN. Ini membutuhkan keberanian untuk melakukan reformasi agraria dan modernisasi pertanian agar pemuda-pemuda di Sulteng kembali ke sawah dan ladang dengan teknologi, bukan lagi dengan cara-cara konvensional yang tidak efisien.

Investasi Sumber Daya Manusia: Menutup Celah Skill Tantangan terbesar dari program “Sembilan Berani” adalah kesiapan manusia.

Pembangunan fisik akan sia-sia jika SDM lokal mengalami marginalisasi akibat ketidaksiapan kompetensi. Strategi kebijakan yang mendesak adalah Transformasi Pendidikan Vokasi.

Pemerintah Provinsi harus berani merombak kurikulum SMK dan menjalin kerja sama langsung dengan industri (link and match). Harapannya, anak-anak muda dari pelosok Tojo Una-Una atau Buol memiliki sertifikasi internasional yang membuat mereka berdaya saing di perusahaan multinasional yang beroperasi di tanah mereka sendiri.

Mitigasi Bencana sebagai Fondasi
Mengingat posisi Sulteng yang berada di atas “supermarket bencana” (Sesar Palu-Koro), keberanian dalam pembangunan juga harus diartikan sebagai Keberanian Menegakkan Aturan Tata Ruang.

Strategi pembangunan tidak boleh mengabaikan aspek mitigasi demi mengejar angka investasi. Setiap izin pembangunan harus melewati filter ketat berbasis risiko bencana. Pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang menghormati karakteristik alamnya.

Kesimpulan: Keberanian yang Terukur
Program “Sembilan Berani” adalah manifesto politik yang kuat, namun keberhasilannya akan diukur dari seberapa sinkron koordinasi antara Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD), birokrasi, dan sektor swasta. Strategi kebijakan Sulteng harus bergerak melampaui urusan administratif; ia harus menjadi gerakan kebudayaan untuk maju.

Sulteng tidak kekurangan sumber daya; yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengelolanya dengan integritas, inovasi, dan keberpihakan yang jelas kepada rakyat kecil.

Jika ini dilakukan, maka “Sembilan Berani” tidak hanya akan menjadi sejarah di atas kertas, tapi menjadi fondasi kesejahteraan bagi generasi Sulteng di masa depan.

Baca Juga: http://Wagub Sulteng Dorong Vaname Jadi Pilar Ekonomi Biru

News Feed