PENATEGAS – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat dengan mendukung proses pendidikan sejarah berbasis riset melalui kolaborasi strategis dengan perguruan tinggi.
Salah satu implementasi nyata terlihat dari kegiatan kuliah lapangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh ke Candi Kedaton, Jambi, pada 28 April 2026.
Sebanyak 19 mahasiswa mengikuti kunjungan studi dengan pendampingan tiga dosen serta peneliti dari Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PR-KKP) BRIN, Zusneli Zubir.
Rangkaian kegiatan berlangsung pada 27–30 April 2026 di wilayah Jambi dan Sawahlunto sebagai bagian dari penguatan pembelajaran berbasis lapangan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi kerja sama antara STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh dan BRIN PR-KKP sejak September 2025. Kerja sama itu menegaskan komitmen BRIN dalam mendukung pendidikan sejarah berbasis riset.
“Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai peninggalan sejarah, khususnya Candi Muaro Jambi.
Selain itu, juga diharapkan dapat menjadi media pembelajaran yang efektif, sehingga mahasiswa dapat memanfaatkannya sebagai bahan ajar ketika nantinya berprofesi sebagai guru,” tegas Zusneli Zubir di sela kegiatan.
Candi Kedaton merupakan salah satu situs arkeologi utama di kompleks Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Kawasan tersebut dikenal sebagai pusat peradaban Kerajaan Melayu serta kerajaan Hindu-Buddha di Sumatra Timur pada abad ke-7. Keberadaan situs menghadirkan sumber belajar autentik yang menghubungkan teori dengan kondisi lapangan secara langsung.
“Kunjungan ke Candi Kedaton penting bagi mahasiswa, khususnya Program Studi Pendidikan Sejarah, karena memungkinkan pengalaman belajar langsung di lapangan,” jelas Kepala Balai Pelestarian Wilayah Jambi, Yanto H.M Manurung, saat memberikan sambutan dan melepas rombongan.
Kompleks Candi Kedaton menampilkan struktur bangunan dari batu bata merah yang mencerminkan teknologi konstruksi kuno Nusantara.
Struktur tersebut memberikan bukti material mengenai praktik keagamaan, politik, dan kehidupan sosial masyarakat masa lampau.
Pengetahuan tersebut menjadi fondasi penting dalam memahami dinamika sejarah kawasan Sumatra Timur.
Situs Muaro Jambi pertama kali dilaporkan oleh perwira Inggris S.C. Crooke pada tahun 1824. Penemuan dilakukan saat pemetaan daerah aliran Sungai Batanghari untuk kepentingan militer yang mengungkap keberadaan reruntuhan bangunan bata dan arca.
Temuan tersebut kemudian membuka jalan bagi penelitian arkeologi yang terus berkembang hingga sekarang.
“Sebagai bagian dari situs Buddha terbesar di Asia Tenggara, kawasan tersebut menjadi pusat edukasi sejarah dan budaya yang berharga. Lingkungan yang dikelilingi rimbunan pohon dan kanal kuno juga menghadirkan suasana tenang bagi wisata keluarga dan wisata sejarah masa Hindu-Buddha,” jelas arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jambi, Novie Hari Putranto.
Keberadaan Candi Kedaton mendukung pemahaman tentang ruang sakral, simbolisme, serta estetika arsitektur tradisional Nusantara.
Situs tersebut juga berfungsi sebagai pusat penelitian arkeologi aktif yang menghasilkan artefak, prasasti, dan sisa bangunan yang memperkaya historiografi lokal dan nasional.
Aktivitas penelitian yang berkelanjutan memperkuat posisi kawasan sebagai laboratorium sejarah terbuka.
“Candi Kedaton memiliki nilai edukatif tinggi karena memberikan wawasan langsung tentang sistem tata kota kuno, hierarki sosial, dan ritual keagamaan di kerajaan Melayu kuno,” ujar Fikrul Hanif Sufyan dalam pemaparan kepada mahasiswa.
Kunjungan pada Selasa, 28 April 2026, dipimpin oleh ketua rombongan Dedi Asmara dengan pendampingan Kaprodi Nahdatul Hazmi serta staf pengajar Fikrul Hanif Sufyan.
Kegiatan dirancang untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai warisan budaya dan sejarah lokal sekaligus memperkuat metode pembelajaran interaktif berbasis lapangan.
Pendekatan tersebut mendorong mahasiswa untuk mengembangkan analisis kritis terhadap sumber sejarah.
“Mahasiswa dapat mengobservasi metode konstruksi kuno, mempelajari konteks historis candi, dan menghubungkannya dengan literatur sejarah,” kata Dedi Asmara saat menutup rangkaian kuliah lapangan.
Kegiatan tersebut memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan wawasan akademik mahasiswa.






