Di Balik Dapur SPPG: Ketika Bisnis Bertemu Pengabdian

Nasional63 Dilihat

PENATEGAS — Mengelola dapur Satuan Layanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bukan perkara sekadar memasak dalam jumlah besar. Ada biaya yang harus dihitung, pemasok yang harus diawasi, pekerja yang harus dibina, serta ribuan porsi makanan yang harus selesai sesuai ketentuan. Di tengah berbagai tuntutan itu, Hj. Murdiana justru memilih untuk tidak menjadikan keuntungan sebagai satu-satunya ukuran.

Ditemui di Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Palu, Selasa (06/10/2026), pemilik dapur SPPG Tumbuh Tujuh Tangkai itu mengaku, jika sejak awal hanya mengejar keuntungan, ia mungkin sudah meninggalkan pekerjaan tersebut. “Kalau hanya berpikir keuntungan, mungkin saya sudah lari,” kata Murdiana

Keputusan untuk bertahan, menurut dia, lebih banyak didorong oleh keinginan untuk ikut memberikan manfaat. Baginya, menyediakan makanan bagi anak-anak memiliki nilai yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.

Namun, pilihan tersebut bukan berarti pengelolaan SPPG berjalan tanpa persoalan. Justru semakin besar jumlah porsi yang harus diproduksi, semakin kompleks pekerjaan di balik dapur.

Murdiana belajar dari berbagai pemberitaan mengenai persoalan makanan dalam program makan bergizi. Ia kemudian mulai melihat kembali proses di dapurnya sendiri. Pertanyaannya bukan sekadar bagaimana makanan bisa selesai tepat waktu, tetapi bagaimana seluruh tahapan produksi dapat dikendalikan dengan baik. Karena itu, ia memilih turun langsung ke dapur.

Bahan makanan yang datang tidak serta-merta diterima. Proses penyortiran dilakukan untuk memastikan bahan yang digunakan sesuai standar. Murdiana juga tidak ingin keputusan pembelian hanya didasarkan pada harga.

Menurutnya, bahan yang murah belum tentu menjadi pilihan terbaik apabila kualitasnya tidak memenuhi persyaratan. “Kalau tidak sesuai standar, saya berani menolak,” ujarnya.

 

Baca Juga:   https://penategas.id/2026/10/05/anwar-hafid-sebut-jembatan-wombo-sebagai-tol-desa-bidik-jalur-alternatif-ke-kawasan-industri/

 

Sikap tersebut membuat pengawasan terhadap pemasok menjadi bagian penting dari rutinitas. Pemasok harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan. Jika barang yang datang tidak sesuai, bahan tersebut dapat dikembalikan.

Bagi Murdiana, sistem seperti itu memang membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak. Namun, ia menilai pengawasan harus dimulai dari sumbernya. Jangan sampai masalah baru dicari ketika makanan sudah berada di tangan penerima.

Keseriusan itu membuat Murdiana tidak hanya memantau dari luar. Ia beberapa kali berada di dapur sejak sekitar pukul 02.00. Pagi hingga siang hari, aktivitasnya masih berkutat dengan operasional dan pembinaan pekerja.

Ia menyadari, membangun kebiasaan kerja yang disiplin tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Para karyawan perlu diberi pemahaman bahwa pekerjaan mereka memiliki tanggung jawab yang besar karena berhubungan langsung dengan kebutuhan anak-anak.

Dalam pandangan Murdiana, mitra juga bukan satu-satunya pihak yang bekerja di balik operasional SPPG. Ada sejumlah unsur yang memiliki fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Karena itu, koordinasi menjadi bagian penting dalam menjalankan dapur.

SPPG Tumbuh Tujuh Tangkai sebelumnya melayani sekitar 2.800 porsi per hari. Kini jumlah tersebut menjadi sekitar 2.150 porsi per hari. Penyesuaian itu juga menjadi momentum bagi Murdiana untuk mengevaluasi sekaligus memberikan edukasi kepada para pekerja. Baginya, mengelola SPPG merupakan proses belajar yang terus berjalan.

Ia mengaku bukan orang yang sejak awal memahami seluruh persoalan secara mendalam. Banyak hal justru dipelajari setelah terjun langsung ke lapangan, melihat persoalan, mencari jawabannya, kemudian menerapkannya di dapur.

Di situlah kisah Murdiana menjadi gambaran bahwa membangun SPPG tidak sesederhana mendirikan sebuah usaha katering. Ada manajemen, pengawasan, pembinaan sumber daya manusia, pengendalian bahan baku, hingga tanggung jawab sosial yang berjalan bersamaan.

Pada akhirnya, bagi Murdiana, keberhasilan bukan hanya soal berapa banyak porsi yang dapat diproduksi. Ada kepuasan lain ketika makanan yang dikerjakan sejak dini hari itu akhirnya sampai kepada anak-anak yang membutuhkan.

Sebab bagi sebagian orang, SPPG mungkin terlihat seperti dapur. Bagi Murdiana, di sanalah kerja, pengabdian, dan tanggung jawab bertemu setiap hari.

News Feed