Cegah Stunting dari Pra Nikah, Wagub Sulteng: PKK Jadi Garda Terdepan Selamatkan Generasi Emas

Daerah42 Dilihat

PENATEGAS – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menegaskan bahwa perang melawan stunting tidak bisa dimulai ketika seorang anak telah lahir. Pencegahan harus dilakukan jauh lebih awal, bahkan sejak masa pra nikah, melalui edukasi calon pengantin, pemenuhan gizi remaja putri, hingga pendampingan intensif terhadap ibu hamil dan balita.

Komitmen tersebut disampaikan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes, saat membuka Sosialisasi Pencegahan Perkawinan Usia Anak, Pentingnya Akta Kelahiran bagi Anak untuk Mencegah Stunting, dan Keluarga Taat Pajak di Aula Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Sulawesi Tengah, Rabu (05/08/2026).

Dalam arahannya, Reny menegaskan bahwa Tim Penggerak PKK merupakan ujung tombak keberhasilan program percepatan penurunan stunting karena memiliki jaringan kader yang langsung bersentuhan dengan masyarakat hingga tingkat desa dan kelurahan.

“Tim Penggerak PKK adalah yang terbaik karena ujung tombak di lapangan adalah ibu-ibu PKK. Mereka menjadi kader Posyandu yang setiap bulan turun langsung memantau tumbuh kembang anak. Perannya sangat luar biasa dalam mencegah stunting,” tegasnya.

Menurut Reny, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat. Karena itu, kader PKK dan Posyandu memiliki posisi strategis dalam memberikan edukasi sekaligus memastikan anak-anak mendapatkan pemantauan kesehatan secara rutin.

Ia juga mengapresiasi sejumlah kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah yang berhasil menurunkan prevalensi stunting. Namun, ia mengingatkan bahwa mulai 2025 pemerintah menggunakan sistem pengukuran baru yang tidak lagi mengacu pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), melainkan berdasarkan data dari aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi yang diperbarui setiap bulan oleh tenaga kesehatan di puskesmas.

Perubahan metode tersebut, menurutnya, menghasilkan data yang lebih akurat dan menggambarkan kondisi riil balita di setiap wilayah sehingga dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

“Data yang diperbarui setiap bulan memungkinkan pemerintah mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan dan mengambil langkah intervensi yang lebih cepat,” ujarnya.

 

Cegah Stunting dari Pra Nikah, Wagub Sulteng: PKK Jadi Garda Terdepan Selamatkan Generasi Emas
Bersama Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes, Ketua TP-PKK Provinsi Sulawesi Tengah Ir. Hj. Sry Nirwanti Bahasoan, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Tengah Dr. Yudiawati V. Windarrusliana, SKM., M.Kes, dan para pemangku kepentingan yang berkomitmen memperkuat sinergi dalam percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tengah. (Dok : Biro Administrasi Pimpinan

Reny menegaskan bahwa stunting bukanlah penyakit, melainkan kondisi gagal tumbuh akibat kurang optimalnya proses pertumbuhan dan perkembangan anak dalam jangka waktu panjang. Oleh sebab itu, langkah pencegahan harus dimulai sejak sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan.

Ia menyoroti pentingnya pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri guna mencegah anemia, karena kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi pada masa mendatang.

http://Baca Juga: https://penategas.id/2026/08/06/lepas-kontingen-jambore-nasional-xii-pemkab-donggala-targetkan-pramuka-jadi-duta-karakter-dan-kebanggaan-daerah/

Selain itu, calon ibu juga diimbau rutin memeriksakan kehamilan di Posyandu maupun fasilitas kesehatan, memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, serta melanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi dan kaya protein hingga anak berusia dua tahun.

“Yang paling penting adalah pencegahan. Perhatikan calon pengantin, ibu hamil, ASI eksklusif, dan pemberian MPASI yang bergizi. Masa emas perkembangan otak anak berlangsung sampai usia dua tahun sehingga harus benar-benar dijaga,” jelasnya.

Tak hanya aspek gizi, Wakil Gubernur juga mengingatkan pentingnya memperhatikan perkembangan motorik anak sebagai indikator utama tumbuh kembang yang sehat. Anak yang aktif bergerak dan menunjukkan respons motorik yang baik, kata dia, umumnya memiliki proses perkembangan yang optimal.

Dalam kesempatan itu, Reny juga menekankan besarnya kontribusi perempuan dalam menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan daerah tidak dapat dipisahkan dari peran perempuan, baik sebagai ibu dalam keluarga maupun sebagai penggerak di tengah masyarakat.

“Perempuan itu hebat dan kuat. Tidak ada laki-laki yang berhasil tanpa ada perempuan hebat dibelakangnya,” tuturnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua TP-PKK Provinsi Sulawesi Tengah Ir. Hj. Sry Nirwanti Bahasoan, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Tengah Dr. Yudiawati V. Windarrusliana, SKM., M.Kes, jajaran organisasi perempuan, para Ketua TP-PKK kabupaten/kota, serta berbagai pemangku kepentingan yang berkomitmen memperkuat sinergi dalam percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tengah.

Melalui kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, dan kader PKK, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah optimistis upaya membangun generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting dapat diwujudkan secara berkelanjutan.

News Feed