Pelepasan Tukik Warnai Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Donggala Perkuat Komitmen Konservasi Pesisir

Daerah595 Dilihat

PENATEGAS – Semangat pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan ekosistem pesisir menggema di Kabupaten Donggala dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia sekaligus menyambut Hari Kelautan Sedunia yang diperingati setiap 8 Juni.

Momentum tersebut diwujudkan melalui aksi nyata konservasi berupa pelepasliaran tukik penyu hijau di Pantai Baturoko, Desa Lalombi, Kecamatan Banawa Selatan, Jumat (05/06/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Balai Belajar Pesisir itu dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi (Rakor) Kelompok Kerja (Pokja) Program SOLUSI Donggala dan dihadiri Wakil Bupati Donggala, Taufik M. Burhan, S.Pd., M.Si., mewakili Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, S.E.

Program SOLUSI merupakan inisiatif kolaboratif yang melibatkan Pemerintah Indonesia melalui Bappenas dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Jerman melalui The Federal Ministry for the Environment, Nature Conservation, Nuclear Safety and Consumer Protection (BMUV), serta konsorsium yang terdiri dari GIZ, ICRAF, SNV, dan Yayasan KEHATI. Di tingkat lokal, program ini menggandeng Yayasan Bonebula untuk memperkuat tata kelola wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Taufik M. Burhan menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra pembangunan yang selama ini berkontribusi dalam mendukung upaya konservasi lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Donggala.

“Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri. Dukungan dari mitra pembangunan, komunitas, dan para pegiat lingkungan menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan bagi masyarakat Donggala,” ujarnya.

http://Baca Juga: https://penategas.id/2026/06/06/pemkab-donggala-dan-pengadilan-negeri-perkuat-akses-keadilan-sidang-keliling-segera-digelar-hingga-pelosok-daerah/

Menurutnya, berbagai langkah konservasi yang dilakukan saat ini sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Donggala yang Maju, Sejahtera, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa prinsip keberlanjutan harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan pembangunan daerah.

Taufik juga berharap Program SOLUSI dapat terus berjalan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat meskipun nantinya masa pendanaan dari Pemerintah Jerman melalui GIZ telah berakhir.

Ia mendorong agar Rakor Pokja menghasilkan rekomendasi strategis yang dapat menjadi acuan pemerintah daerah, termasuk penyusunan peta konservasi yang hingga kini belum dimiliki Kabupaten Donggala.

“Peta konservasi sangat penting untuk mendukung penyusunan RTRW dan berbagai regulasi daerah yang berpihak pada perlindungan lingkungan serta pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kewilayahan Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah, Dony Iwan Setiawan, S.T., M.M., yang mewakili Kepala Bappeda Provinsi, menegaskan bahwa keberhasilan konservasi lingkungan sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat. Ia menilai kawasan pesisir Donggala memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari berbasis edukasi.

Selain menawarkan panorama alam yang indah, kawasan tersebut juga memiliki nilai tambah melalui aktivitas konservasi penyu yang dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus sumber penghasilan masyarakat.

“Kawasan pesisir Donggala memiliki potensi luar biasa. Ke depan, desa-desa pesisir dapat berkembang menjadi pusat wisata edukasi konservasi penyu yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai simbol komitmen bersama menjaga kelestarian laut dan pesisir, kegiatan ditutup dengan pelepasliaran 25 ekor tukik penyu hijau (Chelonia mydas) ke habitat alaminya.

Aksi tersebut menjadi pesan kuat bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan kolektif seluruh elemen masyarakat demi menjaga warisan alam bagi generasi mendatang.

News Feed