PENATEGAS – Dugaan lemahnya pengawasan dalam proses distribusi gas LPG bersubsidi kembali menjadi sorotan setelah ditemukan sejumlah tabung LPG 3-kilogram dalam kondisi kosong namun masih tersegel di salah satu pangkalan di Desa Loli Tasiburi, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026 tersebut melibatkan distribusi LPG 3-kilogram yang disalurkan oleh PT. ARBA SONS COMPANY kepada pangkalan milik Abdul Gafur.
Temuan itu menimbulkan pertanyaan serius terkait kualitas pengawasan dan pemeriksaan tabung sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kejadian tersebut bukan kali pertama terjadi. Dalam dua kali penyaluran berturut-turut, pihak pangkalan menemukan total empat tabung LPG 3 kilogram yang diduga kosong meski masih dalam kondisi tersegel rapi.
Pada distribusi pertama, ditemukan dua tabung LPG yang tidak berisi gas namun segelnya masih utuh.
Kondisi serupa kembali terulang pada pengiriman berikutnya, di mana dua tabung lainnya juga ditemukan kosong meskipun tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada segel.
Temuan tersebut dinilai merugikan pihak pangkalan. Selain berpotensi menimbulkan kerugian secara ekonomi, kondisi itu juga dapat memicu keluhan masyarakat sebagai konsumen akhir yang mengandalkan LPG bersubsidi untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
“Jika tabung kosong ini sampai ke tangan konsumen, tentu akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pangkalan maupun distributor.
Karena masyarakat umumnya tidak mengetahui di mana sumber persoalan sebenarnya terjadi,” ungkap salah satu sumber di lokasi.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak pangkalan segera melakukan koordinasi dan konfirmasi kepada PT. ARBA SONS COMPANY guna memperoleh penjelasan terkait penyebab ditemukannya tabung kosong yang masih tersegel.
Saat dikonfirmasi, perwakilan PT. ARBA SONS COMPANY, Gazi Al Amri, menjelaskan bahwa kondisi tabung LPG kosong namun masih tersegel kemungkinan terjadi akibat adanya kebocoran pada valve atau badan tabung saat proses pengisian di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).
Menurutnya, kebocoran yang tidak terdeteksi saat proses pengisian dapat menyebabkan isi gas keluar secara perlahan sehingga ketika tabung tiba di pangkalan, kondisinya menjadi kosong atau volumenya berkurang dari standar yang telah ditetapkan.
“Hal tersebut bisa terjadi karena adanya kebocoran pada valve maupun badan tabung saat proses pengisian di SPBE. Akibatnya, ada kemungkinan beberapa tabung yang didistribusikan menjadi kosong atau berisi kurang dari ketentuan,” jelas Gazi Al Amri.
Meski demikian, kejadian berulang ini dinilai perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak terkait, termasuk agen penyalur, SPBE, dan instansi pengawas.
Pengawasan yang lebih ketat diperlukan untuk memastikan LPG bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat benar-benar sampai dalam kondisi layak dan sesuai volume.
Masyarakat berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap proses pengisian dan distribusi LPG 3-kilogram agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sebab, selain merugikan pangkalan, persoalan tersebut juga berpotensi mengganggu kebutuhan energi rumah tangga masyarakat yang bergantung pada gas bersubsidi.






