Tragedi di WPR Kayuboko, Dinas ESDM Turun Tangan: Tegaskan Peringatan dan Penataan Keselamatan Tambang

Daerah82 views

PENATEGAS – Tragedi longsor yang merenggut nyawa seorang warga di Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) Kayuboko memantik perhatian serius dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Tengah.

Tim ESDM bergerak cepat melakukan tinjauan lapangan guna memastikan kronologi kejadian sekaligus mengevaluasi kondisi keselamatan di area tersebut.

“Kami menyampaikan turut berduka cita yang mendalam atas musibah ini,” ujar Kabid Minerba Dinas ESDM, Sultanisah, dalam rilis yang diterima PENATEGAS.ID, Jumat (20/02/2026).

Tim ESDM tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 WITA dan langsung berkoordinasi dengan pihak koperasi setempat. Di lapangan, tim bertemu dengan legal koperasi, Guntur, serta Ansar, sepupu korban.

Dialog dilakukan bersama anggota koperasi dan warga sebelum tim menuju titik kejadian di Blok III IPR Kayuboko.

Berdasarkan data yang dihimpun, korban bernama Mama Ida (sekitar 50 tahun), warga Desa Air Panas. Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 15.00 WITA.

Saat itu, almarhumah tengah berteduh di bawah tebing bekas aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) yang masuk dalam wilayah Blok III IPR Kayuboko.

Tanpa disadari, lereng eks PETI tersebut tiba-tiba longsor dan menimbun korban sebelum sempat menyelamatkan diri.

Keluarga korban yang berada tak jauh dari lokasi segera meminta bantuan masyarakat dan koperasi untuk melakukan evakuasi.

Sebuah alat berat excavator dikerahkan untuk membuka material longsoran sesuai petunjuk keluarga.

Setelah posisi korban dipastikan, proses penggalian dilanjutkan secara manual menggunakan tangan oleh keluarga dan warga sekitar.

Sultanisah menjelaskan, almarhumah diketahui kerap datang ke WPR Kayuboko untuk melakukan pendulangan tradisional bersama keluarga. Namun, ia bukan merupakan anggota koperasi.

Di sisi lain, koperasi IPR setempat sebenarnya telah membentuk Satgas dan berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak beraktivitas di area yang berpotensi membahayakan, termasuk di lokasi kejadian.

Saat ini, aktivitas di Blok III disebut hanya berupa eksplorasi atau pengambilan sampel, dengan jarak sekitar 15–20-meter dari titik longsor.

WPR Kayuboko sendiri menjadi lokasi pengais rezeki bagi warga dari berbagai desa seperti Kayuboko, Air Panas, Pelawa, Olo Baru, Petapa, dan Parigimpu. Bahkan, ada pula pendulang dari wilayah Pantai Timur, Pantai Barat, hingga luar daerah.

Mereka bekerja dalam kelompok kecil, dua hingga enam orang, umumnya di area bekas PETI.

Secara teknis, Sultanisah menegaskan bahwa karakteristik tanah di kawasan tersebut berupa emas lepas di aluvial dengan material lempung berpasir yang labil dan sangat rawan longsor.

Tebing di lokasi kejadian bahkan mencapai ketinggian sekitar 15 meter, dengan sejumlah bekas pengambilan sampel.

Sebagai langkah tindak lanjut, Dinas ESDM meminta koperasi segera memasang rambu peringatan dan garis pengaman di titik rawan longsor, serta mengimbau masyarakat beraktivitas di zona yang lebih aman.

Selain itu, koperasi diminta melakukan pemetaan topografi berbasis lidar untuk memantau perubahan bentang lahan eks PETI dan menyusun langkah pengelolaan lingkungan.

ESDM juga mendorong mediasi antara koperasi dan para pendulang guna mengatur mekanisme kerja sama yang tertib serta menerapkan kaidah Good Mining Practice.

Praktik penggalian ekstrem seperti metode “belarut” yang membentuk tebing curam juga diminta dihentikan karena berisiko tinggi, terutama jika disemprot menggunakan pompa jet.

Tak hanya itu, percepatan penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) di WPR Kayuboko menjadi prioritas agar penataan kawasan, tanggung jawab lingkungan, dan keselamatan kerja dapat dijalankan secara lebih terstruktur.

Di tengah duka yang menyelimuti, tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas pertambangan rakyat.

Baca Juga: https://penategas.id/perencanaan-berbasis-data-gubernur-anwar-hafid-tegaskan-opd-tak-lagi-bekerja-tanpa-parameter-jelas/

News Feed