Pantun Kaili Sarat Makna Spiritual
Oleh: Dr. H. Suaib Djafar, M.Si (Budayawan Kaili Sulawesi Tengah)
PANTUN dalam tradisi masyarakat Kaili tidak sekadar rangkaian kata berirama, tetapi menjadi media penyampaian pesan moral, nilai budaya, serta nasihat kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Melalui ungkapan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat Kaili menyisipkan makna filosofis dan spiritual yang mendalam.
Salah satu pantun yang menggambarkan nilai tersebut berbunyi:
“Utadada Manurumanda Nipobalena Ruangu Kaluku Niposarina Bula Mpuasa Bula Mpoamala Alarakavata Pahala Nte Tupualataala.”
Pantun ini diawali dengan gambaran kehidupan sederhana masyarakat Kaili melalui kuliner tradisional.
“Utadada Manurumanda Nipobalena, Ruangu Kaluku Niposarina”
yang berarti sayur santan yang sedap rasanya, dua santan kelapa campurannya, menggambarkan kekayaan alam serta kearifan masyarakat dalam mengolah bahan makanan lokal.
Kelapa sebagai bahan utama santan memiliki makna simbolik tentang keberlimpahan alam yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.
Perpaduan santan dalam masakan juga mencerminkan harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan, bahwa sesuatu yang baik lahir dari perpaduan yang saling melengkapi.
Pada bagian berikutnya, pantun ini membawa pesan spiritual yang kuat:
“Bula Mpuasa Bula Mpoamala, Alarakavata Pahala Nte Tupualataala.”
yang bermakna bulan puasa adalah bulan untuk beribadah dan beramal, semoga dilimpahkan pahala dan berkah dari Allah SWT.
Ungkapan ini menunjukkan bagaimana masyarakat Kaili memaknai bulan suci sebagai momentum memperbanyak amal kebajikan, memperdalam keimanan, serta mempererat hubungan sosial dengan sesama.
Puasa tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai jalan menuju kesucian hati, kepedulian sosial, dan peningkatan kualitas diri di hadapan Tuhan.
Pantun ini mencerminkan perpaduan antara kehidupan budaya dan nilai religius yang hidup dalam masyarakat Kaili.
Dari gambaran kuliner sederhana hingga pesan spiritual yang mendalam, tersirat ajaran bahwa manusia harus mensyukuri nikmat alam sekaligus memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan untuk berbuat kebaikan.
Dengan demikian, pantun ini menjadi bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan bahwa kehidupan yang penuh berkah adalah kehidupan yang dijalani dengan rasa syukur, kebersamaan, serta keikhlasan dalam beribadah dan beramal kepada Allah SWT.(*)





