Oleh: Hj NORMA MARDJANU, SH., M.SI., MH.
(Dosen / Ketua Himpunan Seni Budaya Islam Kota Palu)
AWAL tahun 2026 menjadi momentum reflektif sekaligus strategis bagi pembangunan Sulawesi Tengah menuju “Sulteng Nambaso”—Sulteng yang maju, berdaya saing, berkelanjutan, dan berakar kuat pada nilai budaya lokal.
Dalam konteks ini, kiprah wanita tidak hanya menjadi simbol partisipasi, tetapi merupakan kekuatan utama perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Sejak dahulu, perempuan Sulawesi Tengah—khususnya dalam komunitas Kaili dan etnis lainnya—telah memainkan peran sentral dalam menjaga harmoni keluarga, adat, dan keberlanjutan nilai-nilai luhur.
Wanita dalam Perspektif Kearifan Lokal Sulawesi Tengah
Dalam kearifan lokal Kaili, perempuan dipandang sebagai penjaga nilai (value keeper) dan penenun peradaban. Peran ibu bukan semata biologis, melainkan juga pendidik moral, penjaga adat, dan penguat ikatan sosial. Ungkapan-ungkapan bijak Kaili menempatkan perempuan sebagai poros keteladanan—lembut dalam sikap, tegas dalam prinsip, dan bijak dalam keputusan.
Kearifan lokal mengajarkan bahwa kekuatan perempuan terletak pada keseimbangan rasa, nalar, dan tanggung jawab sosial. Nilai ini relevan dengan tantangan modern yang menuntut kepemimpinan empatik, kolaboratif, dan beretika.
Peran Strategis Wanita di Awal 2026
Memasuki 2026, perempuan Sulawesi Tengah tampil dalam berbagai sektor strategis, Yaitu:
1. Pendidikan dan Pembentukan Karakter: Perempuan berperan besar dalam menanamkan nilai kejujuran, gotong royong, dan Etika sosial sejak dini.
2. Pendidikan berbasis budaya yang ditanamkan oleh perempuan menjadi fondasi generasi Sulteng Nambaso yang berkarakter kuat.
3. Penguatan Ekonomi Keluarga dan UMKM Lokal: Banyak perempuan Sulteng menjadi penggerak ekonomi berbasis kearifan lokal—tenun, kuliner tradisional, pertanian keluarga, dan pariwisata berbasis komunitas. Mereka membuktikan bahwa ekonomi lokal dapat tumbuh tanpa tercerabut dari nilai budaya.
4. Pelestarian Budaya dan Identitas Lokal
Wanita menjadi penjaga tradisi: bahasa ibu, ritual adat, seni, dan nilai-nilai sosial. Di tengah arus globalisasi, peran ini sangat penting untuk menjaga identitas Sulteng agar tetap “nambaso” secara kultural, bukan sekadar pembangunan fisik.
5.Partisipasi Sosial dan Kepemimpinan Komunitas: Semakin banyak perempuan terlibat aktif dalam organisasi sosial, lembaga adat, dan ruang pengambilan keputusan. Kepemimpinan perempuan yang berakar pada kearifan lokal menghadirkan pendekatan dialogis, damai, dan inklusif.
Wanita sebagai Pilar Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan Sulteng Nambaso membutuhkan pendekatan holistik. Perempuan dengan nilai lokalnya mampu menjembatani pembangunan ekonomi, keadilan sosial, dan pelestarian lingkungan. Kearifan perempuan lokal mengajarkan prinsip hidup selaras dengan alam—tidak eksploitatif, tetapi berkelanjutan.
Dalam konteks pemulihan sosial pascabencana dan tantangan global, perempuan Sulawesi Tengah menjadi agen ketahanan sosial, penguat solidaritas, dan penjaga harapan.
Penutup
Kiprah wanita di awal tahun 2026 bukan sekadar catatan peran, melainkan penegasan posisi strategis perempuan sebagai subjek utama pembangunan Sulteng Nambaso. Berbasis kearifan lokal, perempuan Sulawesi Tengah hadir dengan wajah pembangunan yang beretika, berbudaya, dan berkeadilan.
Dengan menguatkan peran perempuan—dari rumah, komunitas, hingga ruang kebijakan—Sulteng Nambaso tidak hanya menjadi slogan, tetapi peradaban yang tumbuh dari akar budaya dan nilai luhur masyarakatnya.






