Sentuhan “Panjalikuntodea”: Kepemimpinan Pengayom Rakyat dari Mimbar hingga Pelosok Desa
Oleh: Dr. H. Suaib Djafar, M.Si (Budayawan Kaili Sulawesi Tengah)
KEPEMIMPINAN yang berakar pada kearifan lokal selalu memiliki kekuatan moral yang lebih dalam, karena lahir dari nilai, budaya, dan rasa kebersamaan masyarakatnya.
Dalam konteks Sulawesi Tengah, semangat itu tercermin dalam ungkapan Kaili “Panjalikuntodea”, yang berarti pengayom rakyat. Ungkapan ini bukan sekadar simbol, melainkan cerminan ideal seorang pemimpin yang hadir, melindungi, dan mengabdi sepenuhnya untuk masyarakat.
Sosok Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menghadirkan makna “Panjalikuntodea” dalam praktik kepemimpinan yang nyata. Hal ini tergambar dalam perjalanan pengabdiannya yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, sebagaimana tergambar dalam narasi budaya: “Rimimbar Eokabuka Sampai Ntetodea Rikelena” (dari mimbar Idul Fitri hingga ke pelosok desa menemui rakyatnya).
Dari Mimbar Idul Fitri: Pesan Moral dan Spirit Kebersamaan
Momentum Idul Fitri bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga ruang refleksi dan penyatuan nilai kemanusiaan. Dari mimbar Idul Fitri, seorang pemimpin menyampaikan pesan moral tentang keadilan, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Di sinilah peran “Panjalikuntodea” mulai terlihat—sebagai pengingat bahwa kepemimpinan harus berlandaskan nilai spiritual, kejujuran, dan tanggung jawab kepada rakyat.
Pesan yang disampaikan tidak berhenti sebagai retorika, tetapi menjadi komitmen untuk diwujudkan dalam tindakan nyata. Nilai-nilai seperti keikhlasan, pengabdian, dan kepedulian menjadi fondasi dalam menjalankan roda pemerintahan.
Menyapa Hingga Pelosok Desa: Kepemimpinan yang Hadir
Makna sejati “Panjalikuntodea” mencapai puncaknya ketika seorang pemimpin tidak hanya berada di pusat kekuasaan, tetapi turun langsung ke tengah masyarakat. Menjangkau desa-desa terpencil, mendengar aspirasi rakyat, dan merasakan langsung denyut kehidupan mereka adalah bentuk nyata dari kepemimpinan yang melayani.
Perjalanan dari kota hingga pelosok desa bukan sekadar agenda kerja, tetapi wujud komitmen untuk memastikan bahwa pembangunan dirasakan secara merata.
Kehadiran pemimpin di tengah rakyat memberikan harapan, membangun kepercayaan, dan memperkuat hubungan emosional antara pemerintah dan masyarakat.
Kepemimpinan Berbasis Kearifan Lokal
Konsep “Panjalikuntodea” sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal Sulawesi Tengah seperti nosarara nosabatutu (persaudaraan dan kebersamaan).
Dalam perspektif ini, pemimpin bukanlah sosok yang berjarak, melainkan bagian dari masyarakat itu sendiri.
Kepemimpinan berbasis kearifan lokal menekankan pada pendekatan humanis, partisipatif, dan inklusif. Pemimpin menjadi jembatan antara kebijakan dan kebutuhan rakyat, serta memastikan bahwa setiap langkah pembangunan berpihak pada kesejahteraan bersama.
Menyatukan Kata dan Tindakan
Ungkapan “Rimimbar Eokabuka Sampai Ntetodea Rikelena” menggambarkan kesinambungan antara kata dan tindakan. Apa yang disampaikan dari mimbar harus diwujudkan di lapangan. Inilah esensi kepemimpinan yang berintegritas—tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak.
Dalam konteks ini, sentuhan “Panjalikuntodea” menjadi simbol kepemimpinan yang utuh: memadukan nilai spiritual, kedekatan sosial, dan kerja nyata untuk rakyat.
“Panjalikuntodea” bukan sekadar gelar atau ungkapan, tetapi panggilan moral bagi setiap pemimpin untuk menjadi pelindung dan pengayom rakyat.
Melalui semangat ini, Sulawesi Tengah tidak hanya bergerak menuju kemajuan, tetapi juga menjaga akar budayanya sebagai fondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis, adil, dan sejahtera.(*)





