Indonesiaku Menguning: Tafsir Kegelisahan Bangsa dalam Goresan Udhin.FM

Hiburan, Nasional271 views

PENATEGAS – Dunia seni rupa Indonesia kembali mendapat perhatian melalui sebuah karya lukis bertajuk “Indonesiaku Menguning”, sebuah lukisan monumental yang sarat makna dan refleksi kebangsaan.

Karya ini diciptakan oleh pelukis asal Kota Palu, Fathuddin Mujahid, yang dikenal dengan nama artistik Udhin.FM, dan menjadi bagian dari koleksi Hi. Moch. Amin Badawi.

Dengan media oil on canvas berukuran besar, yakni 2 meter x 160 sentimeter, lukisan ini tidak hanya menghadirkan kekuatan visual, tetapi juga menggugah kesadaran sosial dan emosional penikmat seni.

Judul “Indonesiaku Menguning” bukan sekadar pilihan kata, melainkan simbol yang kuat. Warna kuning dalam karya ini tampil dominan, mengandung tafsir ganda: di satu sisi melambangkan kematangan, kekayaan alam, dan cahaya harapan, namun di sisi lain menyiratkan kegelisahan, peringatan, serta tanda-tanda kelelahan sosial dan moral.

Udhin.FM menghadirkan Indonesia sebagai sebuah entitas hidup yang tengah berada di persimpangan, antara harapan dan kekhawatiran.

Melalui teknik sapuan kuas yang tegas namun ekspresif, Udhin.FM memadukan figur, lanskap, dan simbol-simbol kebangsaan yang tidak disajikan secara harfiah. Penonton diajak membaca makna di balik lapisan warna dan tekstur yang kompleks.

Detail-detail visual tampak berlapis, seolah merekam perjalanan panjang bangsa dengan segala dinamika sosial, politik, dan budaya yang menyertainya.

Sebagai pelukis yang tumbuh dan berkarya di Kota Palu, Fathuddin Mujahid dikenal konsisten mengangkat tema kemanusiaan, identitas, dan realitas sosial dalam karyanya.

Pengalaman hidup di wilayah yang pernah dilanda bencana, konflik, dan proses pemulihan memberi kedalaman emosional tersendiri pada setiap lukisannya.

“Indonesiaku Menguning” menjadi representasi kegelisahan personal sekaligus kegelisahan kolektif sebagai warga bangsa.

Ukuran kanvas yang besar memperkuat daya gugah karya ini. Penonton seakan “ditelan” oleh ruang visual yang disuguhkan, memaksa mata dan pikiran untuk berlama-lama menafsirkan pesan di dalamnya.

Oil on canvas dipilih bukan tanpa alasan; medium ini memungkinkan eksplorasi warna yang kaya, gradasi halus, serta ketahanan karya dalam jangka panjang, sejalan dengan pesan besar yang ingin disampaikan sang pelukis.

Masuknya lukisan ini ke dalam koleksi Hi. Mich. Amin Badawi menegaskan nilai artistik dan historis karya tersebut. Kolektor melihat “Indonesiaku Menguning” bukan hanya sebagai objek estetika, tetapi sebagai catatan visual tentang kondisi dan perasaan sebuah bangsa pada masanya.

Karya ini sekaligus memperkuat posisi Udhin.FM sebagai salah satu pelukis penting dari Sulawesi Tengah yang patut diperhitungkan di kancah seni rupa nasional.

“Indonesiaku Menguning” menjadi ajakan refleksi: tentang siapa kita, kemana bangsa ini melangkah, dan warna apa yang akan mendominasi masa depan Indonesia.

Karya-Karya Udhin.FM Menggema di Panggung Seni Nasional

Dunia seni rupa Indonesia mencatat satu nama yang konsisten menorehkan prestasi gemilang pada akhir dekade 1990-an. Udhin.FM, perupa dengan karakter visual kuat dan narasi sosial-politik yang tajam, berhasil menembus Nominasi 100 Besar dari 2.600 karya lukisan dalam Ajang Kompetisi Seni Rupa Phillip Morris yang diselenggarakan oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia (YASRI) selama dua tahun berturut-turut, 1997 dan 1998.

Prestasi ini bukan sekadar pencapaian angka, melainkan pengakuan atas kedalaman gagasan dan kekuatan artistik yang dimilikinya.

Pada kompetisi tersebut, Udhin.FM tampil dengan karya monumental berjudul “Kekuasaan dan Ambisius”, sebuah lukisan berukuran 185 cm x 85 cm dengan media oil on canvas. Karya ini menyuguhkan refleksi tajam tentang dinamika kekuasaan dan ambisi politik yang menguat pada masanya.

Melalui komposisi kolosal dan ekspresi visual yang kuat, lukisan ini seolah mengajak penikmat seni menyelami konflik batin, dominasi, serta pergulatan moral dalam pusaran kekuasaan.

Tak berhenti di situ, pada periode berikutnya Udhin.FM kembali mencuri perhatian melalui karya “Wajah”, berukuran 150 cm x 110 cm, juga menggunakan media oil on canvas.

Lukisan ini menjadi representasi dialektika politik dan sosial yang terjadi pada era tersebut, diterjemahkan melalui simbolisme ekspresi manusia yang sarat makna. “Wajah” tidak hanya berbicara tentang individu, tetapi menjadi metafora kolektif atas kegelisahan zaman.

Kedua karya tersebut kemudian dipamerkan di ruang-ruang seni prestisius, antara lain Museum ARMA Bali, Galeri Nasional Indonesia, serta galeri seni di Bandung, memperkuat posisi Udhin.FM sebagai seniman yang diakui secara nasional.

Ciri khas goresan Udhin.FM yang bernuansa naturalis dan realis menjadi kekuatan utama dalam setiap karyanya. Ia memadukan peristiwa sosial, politik, dan budaya dengan kepekaan artistik yang merekam realitas kekinian.

Setiap kanvas tampil berdimensi kolosal, hidup, dan seolah membawa penonton masuk langsung ke dalam peristiwa yang sedang berlangsung—faktual, emosional, dan penuh ketegangan zaman.

Melalui karya-karyanya, Udhin.FM bukan hanya melukis bentuk, tetapi juga merekam sejarah, menjadikannya saksi visual atas denyut politik dan sosial Indonesia pada masanya. Sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa seni rupa mampu menjadi suara zaman yang abadi.

News Feed