Cerita Pendek 4: Bertepuk Air di Dulang, Terpercik Muka Aco

Hiburan87 views

TIDAK ada yang lebih sunyi daripada seseorang yang kehilangan nama, lalu berisik mencarinya kembali. Aco kini berada tepat di titik itu; seorang lelaki tua yang pernah dielu-elukan, lalu terhempas oleh ambisinya sendiri, dan sekarang sibuk menafsir dunia dengan kacamata retak, menjadi jurnalis tunggal dengan mode editor.

Kali ini Aco benar-benar blunder, ia menulis sebuah ilusi picisan yang ia tafsir sendiri. Sebuah tulisan yang alih-alih menggugah, tapi justru memperlihatkan betapa jauh ia tersesat dan terkecoh dari kenyataan.

Aco menyindir foto dua orang di lorong Bandara yang sedang berjalan, hal biasa, wajar, dan proporsional karena dari orang yang memiliki kaitan pekerjaan. Lalu Aco menafsir dengan konspirasi yang ada dalam kepalanya.

Padahal, setiap orang yang pernah bekerja di dunia akademik tahu bahwa perjalanan, pertemuan, perbincangan, dan foto di sudut manapun dan dalam situasi sibuk pun adalah bagian dari profesi yang tetap dijunjung dan dihormati, bukan bahan kecurigaan murahan yang diciptakan dari imajinasi yang tersesat.

Aco harusnya bercermin dengan apa yang dia sindir. Untuk apa Aco pergi berfoto dengan orang Partai dan di posting di medsos? Narsis ya? Atau lagi cari perlindungan dan pembenaran? Wah tidak semudah itu, orang partai justru sangat hati-hati apalagi dengan orang yang buruk rekam jejaknya.

Memang, setelah Aco di pecat dan dipenjara atas kejahatan yang ia buat, Aco tidak lagi hidup dalam dunia kewajaran.

Ia telah lama berpisah dengan cermin kejujuran dan berubah menjadi avonturir, dari lorong hotel ke lorong apartemen hingga lorong kos-kosan untuk mengambil posisi aman seperti juru tembak.

Namun peluru yang dibuat dari ketidakjujuran serta nafsu kekuasaan yang tidak terkontrol justru akan menjadi peluru yang berubah menjadi bumerang.

Orang-orang masih ingat, Aco dulu adalah orang penting di Kampus dengan suara lantang dan gestur berwibawa. Setiap kalimatnya dulu dicatat, setiap keputusannya dipatuhi.

Tapi keserakahanlah yang merugikan dirinya sendiri, membawanya pada posisi yang memalukan keluarga dan institusinya.

Ambisi Aco tidak berhenti pada kepemimpinan. Ia ingin memaksakan hal yang tidak dapat direkayasa. Ia ingin semua orbit berputar di sekelilingnya.

Ketika kenyataan menolak tunduk, ia memilih jalan gelap: teror, fitnah, akun palsu, manipulasi data, dan pesan-pesan ancaman yang dikirim dengan nomor yang berganti-ganti, seolah keberanian bisa disamarkan dengan teknologi. Ia lupa satu hal, bahwa sejarah tidak pernah lupa atas kejahatan yang dia banggakan.

Hari ketika gelar profesor itu dicabut, ketika status PNS-nya dihapus dengan tinta resmi, ketika pintu penjara menutup di belakang punggungnya, itulah hari ketika Aco seharusnya diam. Menunduk.

Bertanya pada diri sendiri. Bertaubat. Tapi Aco memilih jalan lain: jalan paling bising dari seorang yang kehilangan identitas, yakni mengganggu system yang telah berjalan baik dan di dambakan oleh para civitas akademika.

Ia keluar dari penjara bukan sebagai orang yang pulang, melainkan sebagai orang yang terus lari dan membabi buta, buta pada hati, buta pada mata, dan buta pada kebaikan.

Kondisi akademik yang sudah baik saat Aco dipenjara dia ganggu dengan pola-pola lama dengan memindakan fitnah dan teror yang dulu dia lakukan di kampus ke sebuah Surat Kabar yang gampang dia atur sesuai irama hatinya yang dipenuhi kesumat dan angkara.

Maka ia mulai mencari ruang baru. Bukan ruang sunyi untuk menyembuhkan diri, melainkan ruang gemerlap untuk menempelkan bayangannya.

Ia mendekati politisi, pengacara, legislator, wajah-wajah yang pernah ia sapa di masa kejayaannya. Ia berfoto dengan ketua partai, berdiri rapat, tersenyum kaku, seolah kedekatan itu adalah bukti dukungan. Seolah sebuah foto bisa menghapus kejahatannya.

Lalu pertanyaannya kenapa Aco menjadi avonturir berfoto dengan ketua partai? Aco mau apa? Mau masuk partai? Apakah partai mau menerima kader yang punya rekam jejak peneror akademisi dan pemalsu data PNS?.

Yang kita kenal partai justru ingin mempersembahkan kader-kadernya yang memiliki integritas, kejujuran, kesejukan, dan kepedulian kepada masyarakat, bukan justru merangkul kader yang pernah meneror dan menodai dunia akademik.

Aco tidak menyadari bahwa di balik senyum yang ia paksakan saat berfoto dengan orang partai, publik membaca hal lain: kegelisahan, ketakutan, dan kebutuhan akan belas kasihan.

Ia ingin terlihat didukung orang besar, tetapi lupa bahwa orang besar sejati tidak berdiri di samping orang yang belum berdamai dengan kesalahannya.

Aco berlari mencari perlindungan legislator, tapi dia tidak dilayani, karena tentu saja mereka waspada pada Aco yang sudah santer sebagai pengkhianat institusi.

Ironisnya, Aco yang dulu menafsir kebijakan dan menulis pidato akademik kini sibuk menafsir foto orang lain. Ia menyebut foto di lorong bandara sebagai komedi situasi, sandiwara politik, bahkan pengejaran ambisi.

Ia menulis dengan nada menggurui, seolah ia masih pemilik moralitas. Padahal kata-katanya itu seperti air yang ditepukkan ke dulang. Terpencik ke wajahnya sendiri.

Apa yang ia tuduhkan pada orang lain; ambisi, pencitraan, pengejaran kuasa; adalah bayangan dirinya yang justru ia lakukan dan dialah pelaku utama dari carut marut di kampus.

Ia menulis tentang dunia politik sebagai panggung sandiwara, tanpa sadar bahwa dialah aktor yang ingin masuk di panggung itu, memainkan peran seolah-olah dia yang korban dengan eskpresi dan kostum kepalsuan.

Sejak dipecat dari PNS, Aco memang jarang terlihat di kota ini. Kota yang dulu ia kuasai dengan teror kini terasa terlalu sempit untuk menampung rasa malunya.

Ia sering ke ibu kota tempat orang-orang sibuk, tempat masa lalu bisa disamarkan oleh keramaian. Ia ngekos di sana, hidup dari nostalgia dan pertemuan singkat, berharap ada tangan yang mau mengangkatnya kembali.

Namun ia lupa: Ibu Kota bukan tempat penebusan dosa, malah ia ingin menjadikan tempat untuk menipu orang-orang besar dan mencari pembenaran atas seluruh kesalahan yang enggan dia akui.

**

Aco tak berhenti bermimpi, meski kenyataan berkali-kali menolaknya. Di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa, ia meraih gelar Sarjana Hukum melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau, sebuah jalan singkat yang ia tempuh hanya dalam hitungan satu tahun.

Baginya, gelar itu bukan sekadar ijazah, melainkan harapan baru untuk menambal identitas yang telah runtuh. Kini ia menatap profesi advokat dengan mata berbinar.

Ia membayangkan diri berdiri di ruang sidang, bersuara lantang atas nama hukum, seolah masa lalu dapat diredam oleh toga dan pasal-pasal.

Dengan keyakinan itu, Aco menetap di Ibu Kota, berpindah dari satu pintu ke pintu lain, melobi berbagai perkumpulan advokat agar mau menerimanya sebagai bagian dari barisan mereka.

Namun pintu-pintu itu tak kunjung terbuka; Bukan karena berkasnya kurang rapi, melainkan karena jejaknya terlalu jelas. Rekam jejak kelamnya kembali dibaca, jejak ketika ia pernah berkuasa, memimpin di puncak salah satu perguruan tinggi negeri, dan meninggalkan dosa akademik yang tak akan terhapus sepanjang masa.

Di dunia hukum, seperti juga di dunia akademik, ingatan kolektif bekerja lebih jujur daripada kata-kata. Gelar boleh diraih dengan cepat, tetapi kepercayaan tak pernah tumbuh dari jalan pintas.

Maka Aco harusnya kembali belajar satu hal yang terus ia abaikan: bahwa perbuatan masa lalu yang tidak bermartabat akan selalu dikenang publik terutama orang-orang yang dia korbankan.

Begitupun institusi yang dia nodai akan terus bercerita pada anak zaman tentang seorang pemimpin zalim yang telah merusak ekosistem akademik di Perguruan Tinggi tersebut.

***

Yang paling menyedihkan bukanlah jatuhnya Aco, melainkan ketidakmampuannya untuk berhenti. Ia lupa bahwa keluarganya masih hidup dalam reruntuhan yang ia tinggalkan.

Istrinya, seorang akademisi, masih harus menatap lorong-lorong kampus yang dulu dirusak oleh ambisi suaminya. Anak-anaknya masih harus menjawab pertanyaan yang tidak pernah mereka ciptakan.

Tetapi Aco tidak menulis tentang itu. Ia justu menulis tentang orang lain. Menafsir foto yang biasa-biasa saja, tetapi karena hatinya sudah tertutup awan hitam, maka hal yang biasa saja dia pelentir dengan diksi-diksi yang tidak tepat.

Ia ingin mencuci tangan di sungai kata-kata, berharap noda itu hanyut. Padahal semakin ia mengucek, semakin jelas kotorannya.

Ia lupa bahwa hukuman bukan hanya datang dari palu pengadilan, tetapi juga dari ingatan kolektif yang pelan-pelan mengeras menjadi penilaian masyarakat. Jika Aco mau jujur, ia akan melihat bahwa dunia tidak sedang memujinya.

Dunia kampus saat ini hanya ingin berjalan tanpa orang-orang seperti Aco yang telah mengubah dirinya seperti serigala karena ambisi kekuasaan yang membara dan seolah tak pernah padam.

Kini ia berdiri di pinggir sejarah, berteriak lewat media yang ia buat sendiri, mengutip dirinya sendiri, menjadi reporter dan editor bagi dosa yang tak pernah ia akui. Ia lupa bahwa kebesaran tidak lahir dari sorotan, melainkan dari keberanian mengakui salah.

Dan begitulah, Aco terus bertepuk air di dulang. Setiap tepukan ia kira adalah tepuk tangan. Padahal yang ia dapatkan hanyalah percikan yang membasahi wajahnya sendiri, dingin, memalukan, dan tak bisa dihapus oleh foto dengan orang partai dan para lawyer untuk mencari pembenaran.

Namun yang paling berbahaya dari Aco bukanlah jatuhnya, melainkan cara ia bangkit dengan cara yang keliru. Ia tidak datang membawa penyesalan, melainkan membawa ocehan panjang, berliku, dan dipoles seolah benar.

Penyakit hatinya ia jual sebagai analisis, dendamnya ia bungkus sebagai kritik, dan kegagalannya ia samarkan menjadi narasi dizalimi. Aco seakan ingin publik percaya bahwa kata-kata dapat menggantikan pertanggungjawaban.

Ia menulis bukan untuk menyembuhkan, melainkan untuk menulari dan mempengaruhi kejahatan terhadap orang-orang yang punya integritas dan kehormatan dalam memajukan kampus.

Tulisan-tulisan Aco kini seperti luka batin yang tak pernah dirawat. Setiap paragrafnya berisi keluhan yang diputar menjadi kebijaksanaan, setiap kalimatnya berusaha menggeser fokus dari perbuatan ke perasaan.

Ia berharap, jika cukup sering mengulang cerita versi dirinya, ingatan kolektif akan lelah dan memilih lupa. Ia lupa satu hal: publik mungkin bisa bosan, tetapi kebenaran tidak pernah padam.

Aco memproduksi ocehan seperti pedagang yang menawarkan ramuan palsu. “Lihatlah aku,” seakan begitu bunyinya, “aku juga korban.

”Padahal korban sejati adalah mereka yang pernah diterornya; akademisi yang hidupnya retak oleh pesan ancaman; keluarga yang pintu dan jendela rumahnya dilempari; institusi yang namanya tercoreng oleh keserakahan seorang pemimpin.

Semua itu hendak dihapus Aco dengan tinta narasi seolah dia adalah korban. Begitulah jalan pikiran Aco yang ingin kembali menipu dunia.

Dalam tulisannya, Aco gemar menunjuk penyakit orang lain: ambisi, pencitraan, sandiwara. Ia menulis seolah menjadi dokter moral, padahal dirinya sendiri yang amoral.

Penyakit hati yang ia pelihara; iri, dendam, hasrat berkuasa, ia ekspor ke ruang publik sebagai komoditas wacana. Maka ia berisik.

Ia berbicara tentang etika tanpa pernah mengakui pelanggaran. Ia menyinggung moral tanpa menyebut nama dosa. Ia mengeluh tentang kekasaran politik, sambil menutup rapat arsip teror yang pernah ia jalankan dengan tangan sendiri.

Setiap ocehannya adalah upaya mencuci tangan di air keruh, dan seperti biasa, air itu memercik kembali ke wajahnya.

Aco ingin publik melupakan. Melupakan terornya. Melupakan pemecatan. Melupakan pencabutan gelar. Melupakan akun palsu dan data yang dimanipulasi.

Melupakan malam-malam ketika ancaman dikirim dari nomor yang berganti rupa. Ia ingin semua itu tenggelam oleh banjir kata-kata baru. Ia ingin sejarah ditimpa dengan hotline dan pengalihan isu.

Tetapi sejarah tidak membaca headline; sejarah membaca jejak. Semakin Aco menjual ocehan, semakin jelas terlihat bahwa ia tidak sedang mencari kebenaran, melainkan pengampunan instan.

Ia tidak menempuh jalan sunyi penebusan, melainkan jalan pintas simpati. Ia mengemis pengertian tanpa pernah menawarkan kejujuran.

Ia berharap publik berbelas kasihan karena ia telah jatuh, tanpa menyebut siapa saja yang dia jatuhkan sebelumnya. Ada kepanikan yang samar di balik setiap tulisannya. Kepanikan seorang yang sadar bahwa waktu tidak memihaknya.

Bahwa ingatan orang-orang mungkin memudar, tetapi catatan tidak pernah lenyap. Maka Aco mempercepat produksi ocehan. hari ini foto, besok politik, lusa moral, apa saja asal panggung tetap menyala.

Ia seperti pemain sandiwara yang lupa naskah, lalu berimprovisasi tanpa arah. Yang menyedihkan, Aco tidak pernah menulis tentang tobat sebagai tindakan.

Ia menulis tentang tobat sebagai wacana. Ia membicarakan introspeksi tanpa pernah mempraktikkannya. Baginya, kata-kata cukup untuk menebus perbuatan. Padahal hidup tidak mengenal sinonim untuk tanggung jawab.

Di setiap ocehannya, ada harapan licik: jika publik sibuk menilai orang lain, mereka tak sempat menilai dirinya. Jika publik tertawa pada komedi situasi, mereka lupa tragedi yang lebih nyata. Jika publik terjebak dalam tafsir foto, mereka melupakan fakta.

Namun publik bukan kertas kosong. Ada yang membaca Aco bukan dengan mata, tetapi dengan ingatan. Ada yang melihat ocehannya bukan sebagai kritik, melainkan sebagai gejala penyakit hati yang belum sembuh dan menolak diobati.

Dan penyakit yang menolak diobati, cepat atau lambat, akan memperlihatkan keburukannya sendiri yakni sanksi sosial yang tak bisa terhapus dari lembar sejarah.

Aco kini kembali bertepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Kali ini lebih keras, lebih sering, lebih nekat. Dia tambah frustasi tergambar dari diksi-diksi hayali pada media online-nya tempat dia beronani dengan ilusinya.

Ia mengira celotehnya itu adalah jalan terang. Padahal yang jatuh ke wajahnya adalah air keruh agar dia intospeksi, bahwa tidak ada ocehan yang cukup mahal untuk membeli lupa, dan tidak ada panggung yang cukup terang untuk menutupi jejak kejahatan yang enggan ia akui….. Memang Aco berhati batu.

Baca Juga: https://penategas.id/guru-besar-untad-sistem-pilkada-perlu-diperbaiki-secara-menyeluruh/

News Feed