Cerita Pendek 3: Aco dan Post Power Syndrom

Hiburan44 views

KALI ini Aco benar-benar menderita post power sydrom, dia mulai lagi menulis berita-berita halusinasi. Aco pernah menjadi bagian dari sistem akademik. Ia pernah berdiri di mimbar, menyampaikan gagasan dengan bahasa teoritik dan rujukan ilmiah. Pada masanya, ia dikenal sebagai figur yang vokal, bahkan dominan. Namun seperti semua posisi struktural, kuasa itu bersifat temporal. Ketika masa berlalu dan sistem bergerak ke fase baru, Aco yang juga kerap disapa La Aco ini, tidak sepenuhnya siap menerima perubahan tersebut. Ia tetap ingin didengar, meski konteksnya telah bergeser.

Dalam situasi itulah, Aco menggunakan sebuah media untuk melampiaskan halusinasinya dan egonya. Ia menyebutnya sebagai ruang alternatif bagi kebebasan berekspresi. Namun dalam praktiknya, media tersebut beroperasi secara personal dan tertutup. Ia menjadi reporter, editor, sekaligus penentu kesimpulan. Tidak ada proses verifikasi yang memadai, tidak ada upaya cover both sides, dan prinsip dasar 5W1H kerap diabaikan. Tulisan-tulisannya lebih menyerupai opini yang dikemas sebagai berita, dengan kecenderungan provokatif dan fragmentatif.

Dalam perspektif etika jurnalistik, apa yang dilakukan Aco jelas problematik. Media, dalam pengertian akademik, bukan sekadar saluran ekspresi, melainkan institusi moral yang
bertanggung jawab terhadap kebenaran, keadilan, dan kepentingan publik. Ketika media direduksi menjadi alat personal, maka yang lahir bukan pencerahan, melainkan disinformasi.

Dulu, sebelum berhadapan dengan proses hukum, Aco pernah menciptakan atmosfer ketegangan di kampus. Mereka yang tidak sepaham dengannya menjadi sasaran teror simbolik: pesan anonim, narasi fitnah, dan teror pelemparan rumah dan kendaraan yang di dalangi oleh Aco. Terbukti setelah dia diberhentikan secara tidak hormat, semua teror itu tidak terjadi lagi.

Bahkan Aco menjadi dalang upaya membelah komunitas akademik kedalam kubu-kubu antagonistik dan etnis. Dalam beberapa kasus, muncul pula dugaan manipulasi data administratif, termasuk dalam proses penerimaan CPNS. Meskipun tidak semua tuduhan dapat diverifikasi secara terbuka, akumulasi praktik tersebut menciptakan ketidakpercayaan yang serius.

Hingga akhirnya, negara turun tangan. Melalui mekanisme hukum dan administratif, gelar akademik Aco dicabut, status kepegawaiannya diakhiri secara tidak hormat, dan ia menjalani hukuman pidana. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar sanksi individual, melainkan penegasan bahwa dunia akademik memiliki batas etis yang tidak bisa dilanggar tanpa konsekuensi.

Namun hukuman tidak selalu identik dengan kesadaran. Setelah bebas, Aco kembali ke ruang publik dengan cara yang sama seperti sebelumnya: menulis, menuduh, mengadu domba dan memprovokasi. Padahal, kampus telah bergerak maju. Kepemimpinan baru menghadirkan stabilitas, prestasi akademik meningkat, dan iklim kolaborasi mulai tumbuh.

Dalam konteks inilah, tulisan-tulisan Aco terasa seperti suara dari masa lalu yang tidak rela dia tinggalkan. Suatu waktu, seorang individu yang pernah terlibat dalam tindakan kekerasan simbolik, melempari rumah dan kendaraan akademisi, akhirnya mengungkapkan pengakuan. Ia menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan atas perintah Aco.

Pengakuan ini tidak disampaikan secara sensasional, melainkan dalam nada penyesalan. Ia menjadi semacam catatan kaki dalam sejarah konflik kampus yang dia ciptakan tanpa akal sehat.

Baru-baru ini, Aco menulis artikel yang secara tekstual, judulnya terdengar reflektif dan idealistik. Namun secara kontekstual, isinya sarat dengan upaya bapatende, mengadu domba melalui narasi implisit. Ia memanfaatkan simbol persahabatan dan masa depan untuk menanamkan kecurigaan, seolah konflik adalah keniscayaan. Aco tidak menyadari bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang lalu sering dia lakukan atas dasar ego dan dominasi.

Tidak berhenti di situ, ia juga menulis cerita lain tentang seorang Profesor. Tulisan itu seolah ingin mencampuri mekanisme akademik yang seharusnya berjalan berdasarkan prosedur, data, dan evaluasi kolektif. Kritik yang ia sampaikan tidak disertai metodologi yang jelas, melainkan dibangun dari asumsi, insinuasi, dan halusinasi.

Dalam kerangka akademik, kritik semacam ini kehilangan arah logika dan kesadaran manusia. Aco tampaknya lupa, atau memilih melupakan, bahwa menjelang pemilihan rektor sebelumnya, ia terlibat dalam praktik teror digital: akun palsu, nomor telepon berganti-ganti, dan narasi fitnah yang sistematis. Bahkan beredar cerita tentang penggunaan ilmu hitam, doti, dan guna-guna.

Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, yang jelas adalah dampak sosialnya: ketakutan, ketegangan, dan fragmentasi yang dia ciptakan di kampus seolah-olah menampar sistem akademik di Kampus yang telah ditata sesuai aturan kementerian. Dia menjadikan kampus sebagai lahan praktik ego dan ambisinya. Dia enteng mencederai etika akademik untuk keinginannya. Dan kini setelah dia tidak lagi bekerja di Kampus, dia kembali mencederai etika jurnalistik dalam tulisan-tulisannya.

Dalam keyakinan religius yang dianut banyak orang, keadilan Tuhan tidak selalu hadir secara instan. Namun dalam kasus Aco, konsekuensi datang bertahap dan nyata. Ia kehilangan posisi, legitimasi, dan kepercayaan. Anehnya, ia kini bertindak seolah semua itu telah dilupakan oleh publik.

Fenomena ini sering disebut sebagai post power syndrome: kondisi psikososial ketika seseorang tidak mampu menerima hilangnya kuasa dan pengaruh. Dalam konteks akademik, kondisi ini berbahaya karena mendorong individu untuk terus mencampuri sistem yang sudah tidak lagi menjadi bagiannya.

Padahal, etika akademik menuntut kesadaran ruang. Ketika seseorang tidak lagi menjadi bagian dari civitas akademika, maka sikap yang elok adalah menjaga jarak, menghormati proses, dan menahan diri dari komentar yang bersifat destruktif.

Sementara itu, kehidupan kampus berjalan. Mahasiswa meneliti, dosen mengajar, dan institusi berkembang melalui kerja kolektif yang ril. Tidak ada euforia berlebihan, hanya konsistensi. Dalam ruang-ruang kelas, etika, metodologi, dan integritas terus diajarkan, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai praktik.

Kisah Aco adalah refleksi tentang relasi antara kuasa, etika, dan kata-kata. Ia mengingatkan bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan tindakan sosial. Ia dapat membangun peradaban, atau merusaknya secara perlahan. Pada akhirnya, tidak semua orang mampu berdamai dengan kehilangan. Namun kedewasaan justru diukur dari kemampuan untuk menerima batas, bertobat secara intelektual, dan kembali menjadi warga biasa yang berkontribusi secara wajar.

**

Senja kembali turun di kampus itu. Angin laut menyentuh jendela, dan aktivitas akademik berlanjut tanpa hiruk-pikuk. Nama Aco perlahan menjadi catatan pinggir, bukan karena disenyapkan, melainkan karena kehilangan relevansi. Maka Aco akan lebih baik diam dan bertaubat terhadap kejahatan yang telah dia lakukan. (*).

News Feed