Perguruan Tinggi se-Sulteng Deklarasikan Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana, Wamen Dikti Saintek Dorong Kampus Jadi Pusat Solusi

Nasional59 Dilihat

PENATEGAS – Komitmen memperkuat ketahanan daerah terhadap perubahan iklim dan ancaman bencana semakin diperkuat melalui Deklarasi Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta se-Sulawesi Tengah yang berlangsung di Aula Baru Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, Senin (22/06/2026).

Kegiatan strategis tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes, dan dirangkaikan dengan kunjungan kerja Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan.

Deklarasi ini menjadi tonggak penting dalam membangun sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim serta risiko kebencanaan yang terus menjadi tantangan di Sulawesi Tengah.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Reny Lamadjido menegaskan bahwa Sulawesi Tengah memiliki pengalaman panjang menghadapi berbagai bencana besar, mulai dari gempa bumi, tsunami, likuefaksi hingga tanah longsor. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga yang harus direspons melalui penguatan kapasitas dan kolaborasi lintas sektor.

Ia mengenang keterlibatannya secara langsung saat bencana besar 2018 yang melanda Palu, Donggala, Sigi dan wilayah sekitarnya. Sebagai tenaga medis, Reny turut berada di garis depan dalam proses evakuasi dan penanganan korban.

“Pengalaman itu menjadi pelajaran besar bagi kita semua. Bencana mengajarkan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

http://Baca Juga: https://penategas.id/2026/06/22/unhas-dan-pemkab-donggala-jajaki-kemitraan-strategis-perkuat-sdm-hingga-pengembangan-pariwisata/

Menurutnya, gempa bumi yang masih kerap terjadi hingga saat ini menjadi pengingat bahwa upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana harus terus diperkuat melalui pendekatan yang berbasis ilmu pengetahuan dan riset.

“Penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan yang komprehensif, kolaboratif, dan berbasis sains agar risiko dapat diminimalkan serta kapasitas masyarakat semakin kuat menghadapi berbagai ancaman,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Reny juga memaparkan berbagai program prioritas Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui sembilan program unggulan BERANI, khususnya BERANI Cerdas yang fokus pada penguatan sektor pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ia mengungkapkan bahwa sepanjang 2025, Pemprov Sulawesi Tengah telah menyalurkan beasiswa kepada sekitar 23 ribu penerima manfaat. Menariknya, sekitar 40 persen dari total penerima tersebut merupakan mahasiswa perguruan tinggi.

Selain itu, Reny mendorong kalangan akademisi, peneliti, hingga mahasiswa program doktoral agar menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan daerah.

“Saya berharap penelitian, tesis maupun disertasi yang dilakukan perguruan tinggi berangkat dari persoalan nyata yang sedang dihadapi Sulawesi Tengah. Dengan begitu, kampus benar-benar hadir sebagai bagian dari solusi pembangunan daerah,” katanya.

Sementara itu, Wamen Dikti Saintek Prof. Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam mencetak generasi unggul, inovatif, dan berdaya saing global.

Menurutnya, kualitas sumber daya manusia akan menjadi faktor penentu keberhasilan Indonesia menghadapi berbagai tantangan masa depan.

“Perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga harus menjadi pusat riset, inovasi, dan solusi pembangunan. Hasil penelitian harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan perlu terus didorong hilirisasinya agar manfaatnya semakin luas,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi, kecerdasan buatan (AI), literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa di era transformasi digital saat ini.

“Kampus harus menjadi ruang lahirnya generasi muda yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja dan menjadi motor penggerak pembangunan bangsa. Pendidikan adalah investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045,” tegas Fauzan.

Deklarasi Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana ini diharapkan menjadi wadah kolaboratif yang mampu mengintegrasikan riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta memperkuat ketahanan bencana di Sulawesi Tengah, sekaligus menjadikan kampus sebagai garda terdepan dalam menghadirkan solusi bagi masa depan daerah dan bangsa.