RIBUT KETIKA HARAM BERBENTUK MAKANAN

Artikel57 Dilihat

RIBUT KETIKA HARAM BERBENTUK MAKANAN, TAPI KETIKA HARAM BERBENTUK HARTA MENDADAK LUPA DOSA.

Oleh: Dr. H. Suaib Djafar, M.Si (Maestro Budayawan Kaili)

Nariatona Nakanano Nasesa Haram Kalebara Nuapa Anurakande Nikitana Ripombunguna Asaladakonuapa Nipoviaka. Tabangka Haram Nevalidoidea Ntembarambara Domonipadulina Nipakambongokanamo Domonnaeka Dosa Nalipomo Tevaintotua.”

Arti dan Makna Bahasa Indonesia: “Orang sering ribut ketika yang haram berbentuk makanan. Label halal diperiksa, bahan-bahannya diperdebatkan, dan asal-usulnya ditelusuri. Namun ketika yang haram berbentuk uang dan harta, banyak yang mendadak tuli, pura-pura tidak tahu, melupakan dosa, bahkan menjauh dari pesan dan nasihat orang tua.”

Ungkapan bijak ini mengandung kritik moral yang sangat mendalam terhadap sikap manusia yang terkadang tidak konsisten dalam memahami nilai halal dan haram. Banyak orang begitu teliti memeriksa makanan yang akan masuk ke dalam perutnya, tetapi kurang berhati-hati ketika menerima uang, harta, atau keuntungan yang diperoleh dari jalan yang tidak benar.

Dalam perspektif kearifan lokal Kaili, kejujuran, rasa malu, dan harga diri merupakan bagian penting dari martabat manusia. Rezeki yang baik bukan hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi juga dari cara memperolehnya. Sebab makanan yang halal akan menjadi sumber kekuatan jasmani, sedangkan harta yang halal akan menjadi sumber keberkahan hidup.

Ungkapan ini mengajarkan bahwa ukuran ketaatan tidak boleh hanya terlihat pada perkara yang tampak di mata manusia, tetapi juga pada perkara yang tersembunyi dalam urusan ekonomi, jabatan, dan kepentingan pribadi. Nilai luhur warisan leluhur mengingatkan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki, melainkan oleh kebersihan hati dan kejujuran dalam mencari nafkah.

Pesan moralnya adalah: jangan hanya takut kepada haram yang masuk ke perut, tetapi takutlah pula kepada haram yang masuk ke dalam dompet, rekening, dan kekuasaan, karena keduanya sama-sama akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan dan di hadapan generasi yang akan datang.(*)